Saya harus bersyukur bahwa harapan saya agar putera Ide Anak Agung membuat tulisan atau pernyataan tentang peran ayahandanya dalam perjuangan pisik era 1945 – 1948 di Bali muncul di media yang berbahasa Indonesia akhirnya muncul juga.

Kali ini bukan di Jakarta Post tapi di mingguan Tempo edisi 2 Desember 2007.
Walaupun penulis agak kecewa karena Ide Anak Agung cuma menulis seberkas surat pembaca, itupun cuma sebuah koreksi ( Baca Koreksi Ide Anak Agung, halaman 6 Tempo 2 Des 2007 ) dan bukan sebuah artikel utama.

Beliau menulis bahwa artikel Tempo 19 – 25 November ” Ada Pahlawan di Jalur Tol ” memojokkan nama baik Dr Ide Anak Agung Gde Agung ” sebagai Pahlawan Nasional.

Lalu lanjutnya “…lebih menyedihkan lagi tak ada keluarga Ide Anak Agung yang dihubungi untuk berkomentar.”

Setelah menyatakan kekecewaannya terhadap artikel yang menuliskan realitas sejarah ayahnya di era perjuangan pisik di Bali, dia berusaha untuk meyakinkan masyarakat pembaca Tempo dengan mengatakan bahwa prakarsa pendirian NIT oleh Belanda justru dibalik menjadi senjata yang menguntungkan Indonesia oleh Anak Agung Gde Agung yang piawai dibidang diplomasi tersebut untuk menggembosi kekuatan Belanda.

Alih alih Belanda bertambah kuat yang terjadi adalah sebaliknya , kekuatan belanda bukan saja gembos tetapi memperkuat RI karena NIT diakui oleh RI dan menjadi kawan seperjuangan buat munculnya NKRI.

Kepatriotannya terbukti katanya nampak dari mundurnya Ide Anak Agung Gde Agung dari perdana menteri RI, jadi bukan karena melihat angin kecenderungan diplomasi pengakuan Negara negera didunia atau PBB yg kini menguntungkan Indonesia, yang menurut Ir Windia hanyalah karena ybs cukup cerdas untuk membaca situasi masa depan tak akan ada gunanya berdiri dibelakang penjajah colonial Belanda, toh belanda akan hengkang dari bumi republik ini, padahal sesaat sebelum dan setelah gugurnya ngurah rai Anak Agung Gde Agung masih sangat setia dan dipercaya oleh Belanda .

Kenyataan bahwa diplomasi Indonesia bersandarkan ampuhnya militansi perlawanan bersenjata yang mulai terlihat dengan mulai munculnya Tentara Rakyat Indonesia atau TNI dibawah Panglima Sudirman yang memilih bergerilya di hutan hutan menentang NICA kurang mendapat perhatian.

Negotiating power yang yang sering dilupakan oleh politisi sipil yang berwawasan kerdil. Disini para pejuang kemerdekaan walaupun diakui tapi seakan tak memiliki peranan berarti.

Terasa sinyalemen penulis dalam artikel dalam Blog ini ” Pejuang atau Penghianat ” bahwa barangkali para sejarawan dan peneliti kita yang katanya berkelas dunia tak begitu tertarik dengan pejuang atau patriot yang bertempur di wilayahnya masing masing seperti ” Robert Walter Monginsidi” dari Sulawesi Utara ataupun Ngurah Rai dari Bali.

Sehingga para pejuang ini terlihat seakan extremist yang mengacaukan ketenteraman penduduk seperti anggapan Anak Agung Gde Agung dan merasa perlu membentuk organisasi PPN atau Pemuda Pembela Negara yang dipelesetkan artinya oleh para pejuang Bali ” Pejuang Pembela NICA ”

Tugas PPN adalah mengamankan Gianyar dari Gangguan para extremist pejuang, membela Negara ( yang dimaksud negara adalah Puri ), memburu menangkap dan membunuh para pejuang yang kedapatan di wilayah Gianyar dan tentu saja melindungi Anak Agung Gde Agung.

Akan tetapi kita tentu memahami benar posisi putera Ide Anak Agung, yang harus membela ayahandanya tercinta.

Terasa menyedihkan sekali ketika dia berkata dengan nada kurang meyakinkan dan dipaksakan, just untuk membela sang ayahanda yang ditolak kepahlawannanya oleh masyarakat Bali apalagi komunitas pejuang bali.

Kesulitan beliau adalah betapa sulitnya menerangkan fakta sejarah yang sangat tidak sinkron dan mengganggu status ayahandanya sebagai pahlawan nasional.

Menuduh bahwa ada yang sengaja memfitnah ayahandanya yang tidak pernah melakukan kekejaman dan anti pemuda akan sama saja dengan menuduh masyarakat Bali atau komunitas pejuang Bali telah berbohong menuduh seorang pejuang yang patriotic sebagai penghianat.

Ini akan menjadi sulit sekali bagi putera beliau dan bisa berakibat contraproductive jika tidak malah menyebabkan masyarakat tesrsinggung dan terluka karena berakibat terjadinya decontruksi pada patriot idola rakyat bali I Gusti Ngurah Rai.

Akan tetapi untuk membela ayahanda tercinta dengan fakta yang telanjang dan disaksikan banyak orang justru tidak mungkin, karena sayang sekali bahwa fakta yang terekam oleh masarakat Bali dan komunitas pejuang Bali dan artikel-artikel yang ditulis oleh para saksi sejarah atau bahkan oleh pejuang yang masih hidup ( spt Nyoman S Pendit, Maraku Tirtayasa dll ) maupun wafat ( Pak I Gst Ngurah Pindha )justru bertentangan sama sekali.

Cara yang paling mungkin adalah ( walaupun untung untungan ) dengan ngeyel dan berani mengambil resiko bahwa peristiwa pembantaian para pejuang di Gianyar adalah fitnah belaka. Apa boleh buat tak ada jalan lain.

Akhirnya terpaksalah beliau bersembunyi dibelakang benteng2 yang dianggapnya kuat seperti disertasi Leirissa maupun tulisan Anak Agung Gde Agung tentang NIT, dimana kedua penulis ini tak merasa perlu atau memang tidak mungkin menuliskan sisi gelap Anak Agung Gde Agung, karena bukankah sebuah “pujasastra” walaupun barangkali sangat ilmiah tak boleh menulis hal hal negatif tentang ” raja ” yang dipujanya.

Ini mirip ” Negara Kertagama ‘ pujasastra bagi Prabu Hayam Wuruk yang ditulis Mpu Prapanca, tak bolehlah menulis siapa Ken Arok.

Tapi siapa Ken Arok tampaknya telah ditelanjangi poleh Pararaton yang di tulis di ICCHASADA ( Sukasada – Buleleng BALI , 1535 Icaka, atau 1613 Masehi.
Setelah itu barulah seisi negara geger. Namun Ken Arok akan tetap diakui sebagai cikal bakal leluhur raja raja Singosari dan Majapahit.

Regardless his behaviour, attitude or sin.

Apakah nanti Ide Anak Agung Gde Agung akan semujur Ken Arok, dihornati sebagai Pahlawan Pejuang yang sejajar dg Pahlawan Pahlawan yang lain atau I Gst Ngurah Rai lawannya di Bali, mari kita saksikan drama komedi kepahlawana yang disutradai oleh Para Sejarawan yang berkaliber PhD, dan diucapi Selamat oleh Departemen Sejarah UI ( ini juga phenomena paling lucu di era abad 21 ini.

Dimana sebuah komunitas terhormat Departemen Sejarah UI telah tanpa ragu ragu dan dengan bangga rasa, mengucapkan Selamat pada seorang Pahlawan Nasional yang ditolak masyarakat, serta mengabaikan ketiga Pahlawan lainnya, yang barangkali menurut orang2 terhormat ini kurang terhormat dibanding Anak Agung Gde Agung.

Pujasastra baik oleh Prof Leirissa maupun Aco Manafe tak dapat dipersalahkan, karena mereka menulis dengan data data yang valid dan akurat, serta dengan kesimpulan yang pastilah valid dan akurat juga.

Sayang sekali, tulisan yang bagus itu seperti halnya sebuah lensa yang baik juga maka lapang pandangnya sebagian tertutup oleh kabut tabir waktu yang tak sempat menjadi focus oarng orang pandai ini,cendekiawan atau wartawan berpengalaman ini.

Saya ingin tahu bagaimana jika mereka mereka para ahli ini lalu disodori sebuah artikel atau tulisan yang berasal dari para saksi atau pelaku pejuang di era dimana Anak Agung memerintahkan exekusi Pimpinan Pejuang Gerilya Tabanan Wayan Dipta, memerintahkan menyiksa dan menguliti kepalanya sebelum dieksekusi.

Pak Japa saudara Wayan Dipta ( usia 81 tahun )yang diwawancarai wartawan Tempo masih hidup, Ibu Nadi mantan pejuang kemerdekaan anggota resimen Ngurah Rai kini usia 82 tahun masih hidup.

Apakah para sejarawan ini cukup lapang dada untuk menerima sebuah fakta kenyataan baru. Dan dgn berjiwa besar merevisi pendapat dan kesimpulannya . Saya sangat skeptis, karena spt kata anak anak muda ” jaim ” lah, jaga image. ( semoga saya keliru ).

Namun untuk ” saksi meringankan ” yang diajukan putera Gde Agung yaitu bekas pejuang I Gusti Bagus Saputera SH pun saya yakin tidak akan menolak mengingkari kenyataan peristiwa hitam yang terjadi di Gianyar itu.

Anak Gde Agung memang ditangkap oleh para pemuda dan lalu dilepaskan atas intrsuksi Pak Wijakusuma atas persetujuan Komandan Ngurah Rai yang berjiwa besar tersebut, karena Rai berpendapat anak buahnya tidak layak mengeksekusi seorangpun tokoh tanpa persetujuan dan tanggung jawab beliau.

Saya yakin Gde Agung ditangkap karena ketidaksukaan para pemuda pejuang pada sikapnya yang anti pemuda dan ambivalen itu.

Apakah lalu, demi membela ayahnya Anak Agung yunior ini akan melemparkan jurus baru dengan mengatakan bahwa Wayan Dipta Cs tak lebih dari kumpulan bromocorah yang mengganggu Gianyar yang terpaksa ditangkap oleh PPN ( Pemuda Pembela Negara ) yang dibentuk ayahnya karea misalnya tertangkap tangan mencuri ayam dan makanan di Puri Gianyar ( dan sebagai saksi beliau akan mengajukan lagi nama seorang pejuang yang tua renta ? )

Tuduhan penghianat oleh pemuda pejuang tidak dapat digugurkan dengan sebuah fakta sumir hanya dengan mengatakan bahwa semasa hidup beliau tidak dipermasalahkan oleh masyarakat Bali.

Seakan Gde Agung putera AAG AGUNG ini kurang memahami bagaimana sikap dan attitude orang bali yang notabene bangsanya sendiri akan ketidak sukaan orang bali untuk mengexploitasi aib orang lain.Namun jika sudah melampaui batas , dengan menyamakan Ngurah Rai dg Anak Agung Gde Agung tentu masalahnya menjadi berbeda sekali.

Apakah para sejarawan anggota BPPP, atau Leirizza sejarawan terkemuka UI maupun wartawan penulis Aco Manafe atau bahkan Departemen Sejarah UI yang memberikan Ucapan Selamat hampir selebar satu folio di Kompas itu masih tetap ngotot pada pendiriannya, misalnya bahwa kejahatan Anak Agung Gde Agung terlalu kecil untuk dibandingkan dgn nilai2 jasa dan perjuangannya bagi berdirinya NKRI.

Dan perasaan para pejuang, anggota keluarga pejuang dan rakyat Bali bahkan rakyat Indonedsia harus belajar lagi tentang arti patriotisme dan kepahlawanan.

Atau harus membalikkan sama sekali keyakinan yang dianggap keliru oleh orang orang yang memonopoli kebenaran sejarah ini bahwa “Rai pejuang sejati dan Ide Anak Agung tak lebih penghianat dan loyalis belanda yang pintar membaca arah angin ”

Tanpa mengurangi rasa hormat saya baik kepada keluarga besar Anak Agung Gde Agung, putera beliau Anak Agung Gde Agung , Sejarawan Leirissa , wartawan penulis Aco Manafe serta Departemen Sejarah UI , Anhar Gonggong mantan anggota BPPP maka saya yakin jika bisa kita usulkan sebuah seminar yang jujur dan adil memeriksa semua sisi baik terang maupun gelap dari Anak Agung Gde Agung semasa Revolusi pisik di Bali.

Alangkah baiknya jika mereka tersebut diatas bisa bertemu dalam sebuah seminar yang tentunya juga dihadiri oleh para sejarawan semisal Anak Agung Ngurah Agung, IB Wirawan , Parimartha , Suwita , Gde Widja sejarawan UNUD , Asvi Warman Adam sejarawan UI para mantan pejuang Resimen Ngurah Rai yang masih hidup, anggota keluarga saksi2 yang ada dan masih hidup misalnya Bapak Dharmayuda, Pak Dharna, Pak Djendra L Duniaji, putera Ngurah Rai Alit Yudha , Ir Windia, para anggota Legiun Veteran RI Bali.

Last but not least sejarawan dari kalangan DPRD Bali yang katanya mengusulkan kepahlawanan Anak Agung Gde Agung ( mudah2an saya keliru ).

Merdeka,

Soegianto Sastrodiwiryo.

Iklan

Peran Tokoh di Grey Area

14 Oktober 2007

Menarik sekali mengikuti diskusi di blog Budayawan Muda, apalagi membicarakan tokoh-tokoh yang telah almarhum yang ketokohannya diyakini, ditolak ataupun diragukan peranannya dalam khazanah revolusi fisik perjuangan RI sejak 1945 s/d 1949. Sayang boleh dikatakan sebagian besar daripada beliau para pejuang ini telah tiada, kita seakan baru terjaga dari tidur.

AA Gde Agung
Untuk mengungkap ketokohan dari orang-orang yang dianggap pejuang ini kita harus extra hati hati. Selain ada suatu wilayah sharp area yang begitu jelas memihak Belanda, yang saya maksud adalah tokoh tokoh yang secara diametral dan frontal berhadapan dengan para pejuang angkatan Gst Ngurah Rai seperti misalnya Anak Agung Gde Agung Raja Gianyar, maka ada grey area seperti dalam kasus Dr Djelantik ini.

AA Pandji TisnaAnak Agung Panji Tisna termasuk tokoh yang dikritik dalam Bali Berjuangnya Nyoman S Pendit karena cenderung memihak pada Belanda, tapi puteranya ( Dr AAM Udayana alm ) dalam salah satu bukunya menyatakan bahwa Sang Ayahanda diam diam melindungi para pemuda yang bersembunyi di Puri Agung Buleleng saat saat diincar Belanda.

Nah disini ada dua fakta yang tampaknya berseberangan. Untuk juga diketahuai ternyata Anak Agung Panji Tisna adalah sahabat dekat dan akrab dari Dr Soetomo itu Pahlawan Nasional, yang pernah datang mengunjungi Panji Tisna saat liburan di sekolah STOVIA dahulu, dan Mr Anak Agung Gde Agung adalah sahabat surat menyurat Drs Moh Hatta .

Tentu semua fakta ini tidak serta merta bisa menisbahkan kepahlawanan atau kepenghianatan seseorang, tinggal bagaimana kita dengan fikiran yang jernih berusaha mengungkapkan fakta fakta yang masih tertimbun. Para pejuang atau roh para pejuang akan berteriak gemuruh menjerit jika misalnya nanti pada akhir abad ini karena ketidak jelasan sejarah ada tokoh tokoh tertentu semisal Mr Anak Agung Gde Agung tiba-tiba diangkat menjadi pahlawan nasional oleh generasi yang akan datang yang kurang memahami sejarah leluhurnya.

Atau karena mendapat dukungan dari komunitas tertentu maka Aru Palaka yang memihak Belanda saat perang Makassar 1660an lantas juga diangkat jadi Pahlawan Nasional. Nah adalah saat yang tepat sekali jika ada orang-orang seperti Wibisono Sastrodiwiryo atau AA Ayu Oka Saraswati atau siapa saja mau mengangkat atau mendiskusikan informasi yang berasal dari sumber tulisan Dr Djelantik.

Memberikan kritik atau causal analytic thinking-nya dengan kepala dingin. Perlu suatu kajian yang sistematis, teliti, bertanggung jawab serta kesabaran untuk mengumpulkan berbagai bagai informasi yang berserakan untuk mengetahui ” What kind of man is he ? ” tokoh tersebut.

Biografi DjelantikDr Djelantik tidak salah ketika dia menulis dirinya sendiri dalam “Memoirs of the Balinese… “, menjelaskan siapa dirinya dan bagaimana kiprahnya dalam saat saat yang kritis. Tapi para komentator yang belakangan baru ” ngeh ” atas ketidak benaran atau fakta yang meragukan dari apa yang ditulisnya, namun tetap saja memerlukan fakta yang bisa divalidasi kebenarannya.

Tapi satu hal harus diingat, sejarah harus ditulis jika kita tidak menginginkan dia terkubur dalam pembusukan waktu dan zaman, harus ada seseorang atau siapapun yang mau dan berani menulis sejarah, terlepas apakah itu diakui atau tidak, karena kebenaran akan diuji oleh fakta fakta dilapangan.

Dr Djelantik telah menulis sejarah versi dia, kenapa kita tidak menulis sejarah versi kita sendiri, yang dapat mempersembahkan fakta fakta telanjang buat generasi yang akan datang. Saya bukan sejarawan, namun dalam hati saya yang terdalam muncul kekhawatiran akan dekontruksi daripada sejarah yang masih ada didepan mata, maka tanpa harus menjadi piawai dan pintar sayapun menulis apa yang saya ingat dan rasakan.

Syukur Alhamdulillah, rupanya masyarakat Bali menerima dan menyambut baik buku-buku yang telah saya tulis sejak 1994 ( Perang Jagaraga 1846-1849, I Gusti Anglurah Panji Sakti Raja Buleleng 1599-1680 penerbit Guna Agung ) , Perjalanan Danghyang Nirartha 1470-1560 / 1999 , Perang Banjar – 1868 -sebuah pemberontakan para brahmana bali utara / 2007 – penerbit Bali Post.

Penulisan khazanah Bali saya anggap sangat mendesak, mengingat pertgantian generasi hampir terjadi dalam satu kerdipan mata. Tentu kurang elok misalnya jika seorang yang seharusnya hanya menjadi tokoh budaya atau dokter saja lalu diinisiasi menjadi ” pejuang kemerdekaan ” hanya karena tidak ada atau malasnya kita mencari data.

Namun kesalahan selalu memberikan hikmah tertentu. Dalam kasus Dr Djelantik maka hikmahnya adalah karena ada yang sempat membaca tulisannya yang diterbitkan oleh Periplus (penerbit berstandard internationa) dan lalu memunculkannya di blog .

Namun kemudian ada counter dari orang-orang yang mengetahui benar apa siapanya Dr Djelantik ( sayang sampai saat ini kok belum ada yang menulis apa siapanya Mr Anak Agung Gde Agung ), ini bisa menjadi bahan diskusi yang positif untuk mengarah kepada kebenaran dan tidak perlu diberikan stigma atau dicurigai sebagai propaganda komunitas tertentu.

Prof NgoerahUntuk Prof Dr IGNG Ngurah ( beliau adalah dosen yang saya kagumi oleh karena mengajarkan saya tidak menjadi pemalas saat kuliah di Unud ), seyogyanya ketokohan beliau bisa diangkat terutama informasi dari Sdri Saraswati tentang keanggotaan dan kiprah beliau semasa menjadi mahasiwa pejuang Prapatan 10. Jika demikian nyata dan besar jasanya mengapa misalnya tidak diusulkan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah menjadi RS Prof IGNG Ngurah. Why not? Kemudian Dr Djelantik untuk Sasana Budaya mengingat jasa-jasanya dibidang kebudayaan.

Selamat berdiskusi,

Salam,
Soegianto Sastrodiwiryo.