Prof NgurahPerjumpaan saya yang pertama dengan Dr IGNG Ngurah adalah sekitar 1965 , saat saya baru kuliah di tingkat I FK Unud dan beliau baru saja serah terima jabatan sebagai Dekan FK Unud dari Dr AAM Djelantik.

Saat itu saya telah mendapatkan kesan sebuah pribadi yang tenang dengan tatapan mata yang jernih yang menghiasi wajahnya yang anggun berwibawa , percaya diri namun rendah hati.

Barangkali kombinasi antara tatapan dan senyuman yang selalu hadir ketika menyapa mahasiswa atau siapa saja yang berkepentingan menemui beliau merupakan kesan tersendiri.

Hari hari beliau yang yang panjang, neurolog yang merangkap menjadi dosen dan dua kali masa jabatan sebagai rektor ( 1968-1977 ) , diselingi saat pengukuhan sebagai gurubesar ilmu penyakit syaraf ( neurology ) 1968 , benar benar menangkap citra yang mengesankan yang agak unik bagi diriku.

Kesan ini muncul saat saya co schap dibagian penyakit syaraf di RSU Wongaya Denpasar. Seorang dosen dan neurolog yang pada saat praktikum mahasiswa tidak pernah mendelegasikan tugas-tugasnya yang dianggap penting kepada assistennya.

Yang paling terkesan adalah saat beliau seorang diri membersihkan dan mensterilkan kulit ruas tulang belakang seorang pasien wanita setengah baya yang baru menderita hemiplegia.

Sepasang tangan yang lembut, kuat tapi terampil mengarahkan ujung jarum manset lumbal punctie ke sela sela ruas tulang belakang yang telah ditetapkan.

Tindakan lumbal punctie hanya bisa berhasil baik jika dilakukan oleh seseorang yang benar-benar expert, tenang, percaya diri serta memiliki tangan yang terampil

Bintik-bintik air bermunculan dari dahi beliau yang bersih, seorang assisten mengusap keringatnya dan pada spuit tampak cairan jernih dari sumsum tulang belakang meluncur masuk kedalam silinder kaca.

Para mahasiswa coschap yang dari semula memperhatikan dengan agak tegang tampak menghela nafas panjang. Professor Ngurah tersenyum.

Kesan lain adalah ketika saya harus menjawab pertanyaan beliau saat ujian. Tampak beliau mengerutkan dahinya karena jawabanku dinilai kurang memuaskan, wah rasanya setiap bagian kepala ini amblas kedalam bumi.

Saat ujian beliau tegas tanpa kompromi, karena jika diagnose sudah salah maka kandidat tetap harus her mengulang lagi, karena bukankah jika kesalahan diagnose dilakukan seorang medicus praktikus taruhannya bisa nyawa pasiennya sendiri.

Saat saya tugas di NTT, yaitu di Puskesmas Fatumnasi Soe dan RSU Soe ( caretaker sementara Kepala RSU Soe, 1978 ) antara 1977 – 1979, sebagai dokter Inpress.

Saya sempat cuti pulang sebulan ke BALI. Saat itu 1978 . Keinginan untuk bertemu Prof Ngurah begitu kuat. Setelah naik bis dari Singaraja ke Denpasar, maka kurang lebih jam 10 pagi saya telah bisa sampai di RSU Wongaya.

Perasaan senang dan was was menyatu, jangan jangan selesai visite di zaal pasien lalu langsung kekampus untuk mengajar dan tentunya akan lebih sulit lagi ditemui jika sedang mengajar.

Syukurlah keberuntungan masih di pihakku , saat saya bergerak ke koridor yang menuju ruangan kepala bagian, beliau baru saja melangkah keluar.

” Selamat pagi Prof ” kataku sambil menganggukkan kepala .

Prof Ngurah berhenti dan memperhatikan orang yang menyapanya.

Beliau tersenyum dalam sebuah suara nada pengenalan ” Selamat pagi, yang tugas di Timor ?” katanya sambil mengarahkan telunjuk jarinya padaku.

” Benar Prof , saya Soegianto ”

Beliau mengangguk anggukkan kepalanya beberapa kali dan kami bersalaman lalu terlibat pembicaraan kecil. Seperti dugaanku rupanya beliau harus bergegas keluar RSU Wongaya, untuk memberikan kuliah.

Karena saat itu beliau sudah tidak menjabat Rektor, tapi masih aktif mengajar dan masih menjabat kepala bagian Neurologi. Saya tidak menduga bahwa beliau masih mengingat tempat dimana saya ditugaskan, padahal saat wisuda empat orang di awal 1976 bersama Dr Bakta ( kini Rektor Unud ), Dr Sumeda Pindha, Dr Dewa Madra Adnyana ( alm ) telah berlalu dua tahun lebih .

Satu satunya hal yang paling kusesali dalam hidupku tentang beliau adalah keinginan untuk memberikan kenanga kenangan pada beliau ( sebenarnya sudah sejak mulai kutulis telah kurencanakan ) sebuah buku tulisanku ” Perjalanan Danghyang Nirartha, 1470 – 1560 ” yang terbit tahun 1999 tidak pernah terlaksana.

Namun kesibukan tugas di Papua dan Laut China Selatan tampaknya telah menyebabkan semuanya terlupakan. Bahkan baru kusadari beliau telah berpulang ke Haripada pada tahun 2001, setelah baru baru ini membaca sebuah tulisan disebuah Blog.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Semoga ALLAH SWT memberikan tempat yang mulia disisiNYA sesuai dengan amalan amalan beliau di dunia pendidikan dan pengabdian masyarakat dan kepatriotannya di zaman kolonialisme Jepang dan penjajahan Belanda.

Jasa dan partisipasi aktif Prof Dr IGNG Ngurah dalam dunia pendidikan, khususnya di Universitas Udayana tampak nyata dalam sebuah arena histories yang terang benderang dalam kiprahnya sebagai pemrakarsa, pendiri, pembina , pengembang serta pengabdi yang pada gilirannya sangat mengangkat nama Universitas Udayana.

Universitas Udayana, tak dapat diragukan lagi sangat berutang kepada pribadi, Sang Mpu Pendidikan ini yang turut membidani lahirnya Universitas Udayana. Bobot dan citra pendidikan di Bali, dan dengan demikian Indonesia terangkat naik sejak lahirnya UNUD 45 tahun silam ( 1962 ).

Bobot kepribadiannya yang jujur , tulus, sederhana dan penuh pengabdian telah meninggalkan kesan tersendiri bagi para mahasiswa , alumni dan dosen Civitas Academika. Citra seorang dosen yang berwibawa, tegas, disiplin dan mengayomi sulit dilepaskan dari Prof IGNG Ngurah.

Pada saatnya ini merupakan proses berkelanjuan yang terinternalisasi dalam diri para mantan mahasiswanya setelah mereka terjun ke masyarakat maupun memilih menjadi dosen.

Pada diri saya beliau tidak bisa lain adalah tokoh idola. Sungguh di era globalisasi yang tak jarang dipenuhi oleh chaos dan ketidakpastian nilai ini, tokoh seperti Prof Dr IGNG Ngurah menjadi barang langka.

Namun barangkali cara yang lebih baik untuk menghargai dan menghormati Prof Dr IGNG Ngurah tidaklah selesai dengan menabur pujian dan kata indah semata.

Realitas pribadi IGNG Ngurah bisa kita mulai dengan mencoba menyimak komunitas dimana beliau dilahirkan dan dibesarkan, sehingga realitas seorang Ngurah bisa dimunculkan laksana mencuci negative film yang telah lama tersimpan lalu merendamnya dalam larutan Argentum untuk kemudian muncul dalam cetakan kertas film dan terbacalah ” What kind of man is he “.

Iklan

Peran Tokoh di Grey Area

14 Oktober 2007

Menarik sekali mengikuti diskusi di blog Budayawan Muda, apalagi membicarakan tokoh-tokoh yang telah almarhum yang ketokohannya diyakini, ditolak ataupun diragukan peranannya dalam khazanah revolusi fisik perjuangan RI sejak 1945 s/d 1949. Sayang boleh dikatakan sebagian besar daripada beliau para pejuang ini telah tiada, kita seakan baru terjaga dari tidur.

AA Gde Agung
Untuk mengungkap ketokohan dari orang-orang yang dianggap pejuang ini kita harus extra hati hati. Selain ada suatu wilayah sharp area yang begitu jelas memihak Belanda, yang saya maksud adalah tokoh tokoh yang secara diametral dan frontal berhadapan dengan para pejuang angkatan Gst Ngurah Rai seperti misalnya Anak Agung Gde Agung Raja Gianyar, maka ada grey area seperti dalam kasus Dr Djelantik ini.

AA Pandji TisnaAnak Agung Panji Tisna termasuk tokoh yang dikritik dalam Bali Berjuangnya Nyoman S Pendit karena cenderung memihak pada Belanda, tapi puteranya ( Dr AAM Udayana alm ) dalam salah satu bukunya menyatakan bahwa Sang Ayahanda diam diam melindungi para pemuda yang bersembunyi di Puri Agung Buleleng saat saat diincar Belanda.

Nah disini ada dua fakta yang tampaknya berseberangan. Untuk juga diketahuai ternyata Anak Agung Panji Tisna adalah sahabat dekat dan akrab dari Dr Soetomo itu Pahlawan Nasional, yang pernah datang mengunjungi Panji Tisna saat liburan di sekolah STOVIA dahulu, dan Mr Anak Agung Gde Agung adalah sahabat surat menyurat Drs Moh Hatta .

Tentu semua fakta ini tidak serta merta bisa menisbahkan kepahlawanan atau kepenghianatan seseorang, tinggal bagaimana kita dengan fikiran yang jernih berusaha mengungkapkan fakta fakta yang masih tertimbun. Para pejuang atau roh para pejuang akan berteriak gemuruh menjerit jika misalnya nanti pada akhir abad ini karena ketidak jelasan sejarah ada tokoh tokoh tertentu semisal Mr Anak Agung Gde Agung tiba-tiba diangkat menjadi pahlawan nasional oleh generasi yang akan datang yang kurang memahami sejarah leluhurnya.

Atau karena mendapat dukungan dari komunitas tertentu maka Aru Palaka yang memihak Belanda saat perang Makassar 1660an lantas juga diangkat jadi Pahlawan Nasional. Nah adalah saat yang tepat sekali jika ada orang-orang seperti Wibisono Sastrodiwiryo atau AA Ayu Oka Saraswati atau siapa saja mau mengangkat atau mendiskusikan informasi yang berasal dari sumber tulisan Dr Djelantik.

Memberikan kritik atau causal analytic thinking-nya dengan kepala dingin. Perlu suatu kajian yang sistematis, teliti, bertanggung jawab serta kesabaran untuk mengumpulkan berbagai bagai informasi yang berserakan untuk mengetahui ” What kind of man is he ? ” tokoh tersebut.

Biografi DjelantikDr Djelantik tidak salah ketika dia menulis dirinya sendiri dalam “Memoirs of the Balinese… “, menjelaskan siapa dirinya dan bagaimana kiprahnya dalam saat saat yang kritis. Tapi para komentator yang belakangan baru ” ngeh ” atas ketidak benaran atau fakta yang meragukan dari apa yang ditulisnya, namun tetap saja memerlukan fakta yang bisa divalidasi kebenarannya.

Tapi satu hal harus diingat, sejarah harus ditulis jika kita tidak menginginkan dia terkubur dalam pembusukan waktu dan zaman, harus ada seseorang atau siapapun yang mau dan berani menulis sejarah, terlepas apakah itu diakui atau tidak, karena kebenaran akan diuji oleh fakta fakta dilapangan.

Dr Djelantik telah menulis sejarah versi dia, kenapa kita tidak menulis sejarah versi kita sendiri, yang dapat mempersembahkan fakta fakta telanjang buat generasi yang akan datang. Saya bukan sejarawan, namun dalam hati saya yang terdalam muncul kekhawatiran akan dekontruksi daripada sejarah yang masih ada didepan mata, maka tanpa harus menjadi piawai dan pintar sayapun menulis apa yang saya ingat dan rasakan.

Syukur Alhamdulillah, rupanya masyarakat Bali menerima dan menyambut baik buku-buku yang telah saya tulis sejak 1994 ( Perang Jagaraga 1846-1849, I Gusti Anglurah Panji Sakti Raja Buleleng 1599-1680 penerbit Guna Agung ) , Perjalanan Danghyang Nirartha 1470-1560 / 1999 , Perang Banjar – 1868 -sebuah pemberontakan para brahmana bali utara / 2007 – penerbit Bali Post.

Penulisan khazanah Bali saya anggap sangat mendesak, mengingat pertgantian generasi hampir terjadi dalam satu kerdipan mata. Tentu kurang elok misalnya jika seorang yang seharusnya hanya menjadi tokoh budaya atau dokter saja lalu diinisiasi menjadi ” pejuang kemerdekaan ” hanya karena tidak ada atau malasnya kita mencari data.

Namun kesalahan selalu memberikan hikmah tertentu. Dalam kasus Dr Djelantik maka hikmahnya adalah karena ada yang sempat membaca tulisannya yang diterbitkan oleh Periplus (penerbit berstandard internationa) dan lalu memunculkannya di blog .

Namun kemudian ada counter dari orang-orang yang mengetahui benar apa siapanya Dr Djelantik ( sayang sampai saat ini kok belum ada yang menulis apa siapanya Mr Anak Agung Gde Agung ), ini bisa menjadi bahan diskusi yang positif untuk mengarah kepada kebenaran dan tidak perlu diberikan stigma atau dicurigai sebagai propaganda komunitas tertentu.

Prof NgoerahUntuk Prof Dr IGNG Ngurah ( beliau adalah dosen yang saya kagumi oleh karena mengajarkan saya tidak menjadi pemalas saat kuliah di Unud ), seyogyanya ketokohan beliau bisa diangkat terutama informasi dari Sdri Saraswati tentang keanggotaan dan kiprah beliau semasa menjadi mahasiwa pejuang Prapatan 10. Jika demikian nyata dan besar jasanya mengapa misalnya tidak diusulkan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah menjadi RS Prof IGNG Ngurah. Why not? Kemudian Dr Djelantik untuk Sasana Budaya mengingat jasa-jasanya dibidang kebudayaan.

Selamat berdiskusi,

Salam,
Soegianto Sastrodiwiryo.