Tulisan ini seyogyanya adalah tanggapan untuk komentar sdr Ratu Adil yang bosan dengan Blog saya. Namun dalam menulis tanggapan tersebut terinspirasi untuk sekedar menyinggung beberapa hal menyangkut patriotisme.

Sdr Ratu Adil ( maaf apakah Anda memakai nama Ratu Adil ini karena terinspirasi oleh komandan Angkatan Perang Ratu Adil , APRA Kapten Raymond Westerling yang membantai anggota TRI di Jawa Barat ? ) , walaupun Anda menyembunyikan nama dalam morphema Ratu Adil saya masih berusaha berfikiran positip tentang Anda.

Saya tawarkan pada Anda untuk menulis tentang apa saja yang tidak membosankan , tapi rupanya Anda sangat allergy dengan angkatan pejuang Ngurah Rai dan sangat bersimpati pada Pahlawan Nasional yang baru Anak Agung Gde Agung.

Itupun tidak masalah, kan masih termasuk kebebasan berpendapat. Untuk Anda ketahui bahwa saya mengenal beliau ( Ide Anak Agung Gde Agung )dalam usia beliau yang sudah senja saat ada acara peringatan Mahatma Gandi di Ashram Candidasa 1993 , dihadiri Gus Dur dan tentu saja Ibu Gedong Bagoes Oka pemimpin Ashram.

Saya melihat sebuah pribadi yang tenang , memiliki pengetahuan yang luas dan mau berbagi atau membagikan pengetahuannya kepada siapa saja. Bahkan beliau menjawab dengan telaten pertanyaan saya tentang phenomena ” Jaran Pondong ” yang sempat menjadi urat nadi transportasi rakyat bali sebelum derasnya masuk mesin roda dua dan roda empat dari Jepang .

Banyak persamaan pendapat saya dengan beliau tentang perasaan hilangnya phenomena unik ini, bahkan beliau mempersilahkan saya buat singgah ke puri Gianyar untuk mencopy data apa saja yang saya perluka. Tawaran yang simpatik sangat saya hargai . Sayang karena kesibukan saya sampai beliau wafat saya belum sempat datang ke Puri Gianyar.

Saat percakapan itu sempat terdokumentasi dalam foto saya dg beliau di Bali Post.
Saya malah sempat berfikir, barangkali Anak Agung Gde Agung ini cukup arif untuk merasakan posisinya diantara para pejuang di Bali.

Jika roh bisa ditanyai jangan jangan Anak Agung Gde Agung tidak berminat untuk diangkat menjadi Pahlawan Nasional dan memilih untuk tidak melihat Bali kemelut gara gara pengangkatannya.

Karena siapa bisa menolak apa yang sudah terjadi, kecuali dg jantan mengakui bahwa itu sudah terjadi dan menjadi tanggung jawabnya pribadi ( note : peristiwa exekusi pejuang pejuang Gianyar yang dengan tegas dan jelas menunjukkan dimana posisi Anak Agung Gde Agung ). Tapi maaf ini hanya pendapat dan perasaan saya saja.

Dalam kapasitasnya sebagai intelektual yang brilliant saya harus menghargai orang tua ini. Indonesia sebenarnya mendapat keuntungan yang tidak sedikit dari kiprahnya dibidang diplomasi shg Bung Karno dan Pak Harto pun tidak segan segan untuk memakai dan memanfaatkan keahliannya.

Ini bukan ambivalensi fikiran saya, kita harus membedakan perasaan kita rasa benci dll dengan fakta sejarah yang telah terjadi. Ada sebuah buku yang sebenarnya cukup bagus ditulis oleh wartawan Kompas Aco Manafe berjudul ” Dr Ide Anak Agung Gde Agung: Keunggulan Diplomasinya Membela Republik” , yang nampaknya bertujuan untuk memperkuat fakta fakta bagi usulan gelar Pahlawan Nasional .

Tapi sayang sekali karena tidak ( atau sengaja karena topiknya adalah diplomasi ? )
menyinggung sisi lain yang gelap dari sikap Anak Agung Gde Agung saat bekerjaasma dengan NICA Belanda dalam periode perjuangan pisik di Bali maka buku ini terasa timpang dan cenderung memaksakan penilaian dari satu sisi saja.

Padahal salah satu kriteria Pahlawan Nasional seperti dikatakan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah adalah : tidak pernah cacat terus menerus. Padahal Aco Manafe seharusnya mengerti situasi sejarah dan perasaan komunitas pejuang bali karena dia pernah kuliah dan tinggal cukup lama di Bali ( UNUD ) ditahun 60 an.

Dalam hal Keputusan Pemerintah soal pengangkatannya maka disini ada sebuah nilai yang tidak pas dan bertentangan dengan norma keadilan dan nilai kepahlawana itu sendiri.Republik ini berdiri karena perjuangan rakyat dan para pejuangnya baik dari sisi militer maupun diplomasi. Tapi sayang sekali masih ada cendekiawan berkelas PhD yang berani mengatakan bahwa kemerdekaan Indonesia didapatkan bukan karena perlawanan bersenjata tapi karena strategi diplomasi.

Orang ini memutlakkan kesimpulannya karena merasa ahli dan piawai soal sejarah. Bayangkan saja jika Panglima Sudirman tidak berpalagan Ambarawa menghantam sekutu sampai mundur sejauh Semarang, dan lalu Bung Karnolah yang turun tangan agar jangan sampai TNI saat itu menghabisi tentara sekutu yg terdesak dan terkepung itu dihabisi sama sekali ( Inggris dan Nica ) karena terkunci dalam kepungan laskar Pak Dirman – diplomasi dan kekuatan militar bahu membahu menegakkan citra Republik ini.

( Bung Karno sangat bijaksana dg memerintahkan Pak Dirman untuk melepas kepungannya agar ditingkat internasional kita tidak terkesan Pro Jepang dan melawan Sekutu, ini strategi yang jitu gabungan militer dan diplomasi )

Bayangkan juga jika Bung Tomo tidak berorasi dan rakyat Surabaya itu tidak berani melawan tank tank sekutu dengan bambu runcing dan misalnya memilih mengikuti surat selebaran ancaman panglima sekutu Jendral Mallaby untuk meletakkan senjata. Kita benar benar jadi bangsa tempe dan 10 November tak akan pernah ada.

Untuk Anda ketahui juga bahwa jauh sebelum pejuang pejuang Palestia berani menubrukkan dirinya ke tank2 Izrael maka manusia Indonesa yang bernama arek arek Suroboyo itu sudah berani menghadang tank2 sekutu just hanya dg bambu runcing saja -10 November 1945 )

Terroris ?

Ya, bagi Belanda para pejuang kemerdekaan tak lebih daripada teroris. Tapi bukan kelompok Doctor Azahari atau Nurdin M Top yang lenggang kangkung masuk Indonesia dari Malaysia lalu membunuhi rakyat Indonesia melalui jaringannya di Indonesia ( Amrozy Cs )

Bayangkan juga jika Gusti Ngurah Rai turun gunung lalu menyerahkan senjatanya pada Overste Termeulen di Tabanan, Palagan Margarana tak pernah ada dan manusia bali akan dikenang sebagai manusia penakut dan pengecut yang cuma piawai dalam upacara upakara ritus rutinitas.

Tapi ijinkan saya disini bertanya , hati siapa di Bali yang tak tergetar jika setiap 20 November nama Ngurah Rai disebut dan diupacarai di Marga.

Jika Anda masih ragu ( sampai disini semoga Ratu Adil tidak bosan, karena bagi mereka yang tak memiliki barang setetes saja rasa patriotisme ini memang benar benar sangat membosankan ..he..he..) akan saya cantumkan surat jawaban Ngurah Rai kepada Overste Termeulen yang merayu Rai agar turun gunung dan bekerjasama dengan Belanda ( bandingkan dengan sikap Anak Agung Gde Agung yang berkolaborasi dengan kolonial Belanda saat itu )

………………………..18 Mei 1946.

Kepada
Jth.Toean Overste Termeulenb di Denpasar
Merdeka !

…………………………….

Soal perundingan , kami serahkan kepada kebijaksanaan Pemimpim Pemimpin kita di Djawa .Bali boekan tempatnya peroendingan diplomatik. Dan saya boekan kompromis.

Saya atas nama rakyat hanya menghendaki lenyapnya Belanda dari poelau Bali atau kami sanggoep dan berdjandji bertempur sampai tjita tjita kita tertjapai.

Selama Toean tinggal di Bali , poelau Bali tetap menjadi belanga pertoempahan darah , antara kita dengan pihak Toean.

Sekali merdeka tetap merdeka .

Dewan Perdjoeangan Bali

I Gusti Ngurah Rai .

Saudara Ratu adil yang baik, bisakah Anda membayangkan bagaimana perasaan para anggota keluarga para pejuang Bali baik yang gugur dalam Palagan Margarana maupun ditempat lain ataukah yang masih hidup mendengar pengangkatan Ida Anak Agung Gde Agung sebagai Pahlawan Nasional – alas bagaimana jika Rai masih hidup dan melihat peristiwa ini, mungkin gelar pahlawan nasional beliau kembalikan dengan tulus ichlas mengingat definisi kepahlawan sesuai zaman telah bergeser 180 derajat.

Jika Anda adalah salah seorang daripada keluarga mereka maka tanyakanlah kepada yang masih hidup atau siapa saja posisi perasaan mereka.

Pengangkatan Anak Agung Gde Agung sebagai Pahlawan nasional akan memberikan dampak yang memecah belah komunitas rakyat bali yang gandrung dengan nilai nilai kebenaran dan kepahlawanan. Ini juga menghina para keluarga pejuang ( kecuali beberapa penghianat yang pandai berpura pura ).

Terjadi anomie antara nilai nilai perjuangan, ketidak pastian dan konflik dalam wacana kepahlawanan diantara generasi muda berikutnya.

Akhirnya kita bisa sampai pada kesimpulan yang terasa naif tapi sebenarnya tidak, jangan jangan memang ada skenario besar untuk mensplitting rasa kesatuan dan persatuan rakyat Bali dan Indonesia umumnya, yang dilakukan oleh para oportunis sehingga Bom Bali satu dan dua bisa berlanjut menjadi bom bali tiga yang bukan pisik tapi mental psikologis.

Rakyat bali yang jujur dan lugu itu oleh politician yang tak kasat mata dipaksa untuk memilih antara Anak Agung Gde Agung atau Ngurah Rai. Ini menjadi amat jelas jika kita perhatikan betapa mandulnya koran koran di bali – sampai detik tulisan ini – ( Bali Post misalnya ) untuk tidak mengangkat sebuah tulisan artikel pokok yang memaparkan fikiran para cendekiawan dan sejarawannya terhadap pengangkatan Anak Agung Gde Agung.

Koran Tempo masih kita hargai karena menulis “Pahlawan Di Jalan Tol“, walaupun covernya masih lebih penting wajah Roy Marten yang terlibat Narkoba, karena tuntutan pasaran pembaca memang lebih gairah dg kasus2 kriminal daripada membicarakan Pahlawan.

Di Bali tak kurang sejarawan piawai atau intelektual yang mampu mengangkat sebuah tulisan yang jujur dan berimbang tentang ketokohan Anak Agung Gde Agung lalu melakukan komparasi atas rasa patutnya tokoh ini ditampilkan sebagai Pahlawan Nasional.

Namun jika mass media telah dikondisikan sedemikian rupa sehingga setiap tulisan kritis selelau diblok and filtrated maka jangan salahkan sejarawannya tak akan mampu berbuat apa apa.

Akirnya menyedihkan sekali bahwa tulisan sekelas orang orang patriotik semisal Ir Wayan Windia itu cuma diberi jatah surat pembaca saja. Benar benar sangat menyedihkan. Semoga tak adalah konspirasi untuk menggagalkan itikad baik tulisan orang orang yang memang berkaliber buat itu.

Yang lebih mengherankan lagi mengapa jika ada ketidak adilan penyelewengan dana dana pemerintah oleh oknum2 legislative maupun executive maka para mahasiswa dengan beringas berbondong bondong demonstrasi, tapi buat korupsi nilai atau value yang dilakukan oleh pemerintah dalam penentuan gelar pahlawan nasional maka arena pernyataan pendapat tiba tiba sunyi senyap.

Tapi jangan salahkan juga mahasiswa generasi muda, karena barangkali spt halnya saudara Ratu Adil ini dengan sangat marah dan tegas mengatakan bahwa tulisan tentang kepahlawanan atau kepenghianatan seseorang itu menjadi sangat membosankan . Ini sangat menyedihkan.

Barangkali yang salah adalah generasi terdahulu ( sdr Ratu Adil maaf Anda lahir tahun berapa ya ? ), yang berwenang memberikan pelajaran sejarah buat putera puteranya.

Saya tutup jawaban saya pada Ratu Adil ini dengan adagium ” bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa mnghargai para pahlawannya ”

Siapa tahu suatu saat nanti Sdr Ratu Adil menjadi salah seorang Presiden Republik Indonesia diabad 21 ini. Sehingga sesuai dg namanya bisa menjadi ” Ratu Adil ” , Presiden yang benar benar adil dan faham sejarah , dan tak akan pernah menandatangani Surat Keputusan Pengangkaan Pahlawan Nasional jika bukan Pahlawan Nasional yang memenuhi syarat.

Note : Sebenarnya saya mengharapkan ada tulisan putera Mr Anak Agung Gde Agung dalam media yang berbahasa Indonesia dan bukan hanya di Jakarta Post yang berbahasa Inggris ( beliau adalah mantan Menteri Sosial di zaman Presiden Gus Dur, dg nama sama dg ayahandanya ) , sehingga ada pemberitaan yang agak berimbang dan kita tidak perlu apriori pada siapapun dalam mencari nilai kebenaran .

Salam,

Soegianto Sastrodiwiryo.

Iklan

Pejuang Atau Pengkhianat?

20 November 2007

Saat itu 10 November 2007, jam sepuluh pagi roomboy masuk ke kamarku dan meletakkan beberapa lembar koran dan majalah diatas meja.

Memang secara teratur hampir setiap hari selalu ada kiriman dari Jakarta ketempat kami bekerja. Sebuah tanker raksasa yang sudah puluhan tahun mengapung di teluk Jakarta.

Kuambil salah satu, Media Indonesia, karena isinya yang kuanggap paling lengkap sosial, politik, ekonomi, kesusastraan dan budaya, selain aku juga pengemar berat Andy Kick dan Republik Mimpi.

Ketika sampai kehalaman 16 kubaca tulisan yang hampir tak dapat kupercaya, tapi telah kuperkirakan. SK Pengangkatan Anak Agung Gde Agung sebagai Pahlawan Nasional. Perkiraanku itu telah kutulis dalam Blogku ( baca Peran Tokoh di Grey Area ) tentang kemungkinan pengangkatan tokoh-tokoh yang pro Belanda hanya terpaut dua minggu sebelum pengumuman pahlawan nasional yang baru oleh Presiden .

Dalam tulisan itu saya perkirakan, jika generasi yang kemudian tidak memahami sejarah bangsanya dengan baik jangan terkejut jika dua puluh tahun lagi atau akhir abad ini ada orang orang pro Belanda atau penghianat yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

Barangkali saat aku sudah pindah alamat ke negeri antah berantah. Perkiraan nampakmya tidak meleset, hanya waktunya bukan puluhan tahun tapi ukuran beberapa hari saja. Waktunya salah, tapi visinya akurat. Benar benar sebuah percepatan yang unpredictable.

Berikut ini kutipan dari Media Indonesia, 10 Nov 2007.

“…Penghargaan : Presiden Tetapkan Empat Pahlawan Nasional Baru. Dalam memperingati Hari Pahlawan 10 November 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahi gelar dan tanda kehormatan sebagai pahlawan kepada empat mantan jenderal dan seorang sipil.

Empat nama tersebut adalah pejuang Sumatera Selatan Mayor Jenderal ( Purn ) dr Adnan Kapau Gani , pejuang Bali Dr Ide Anak Agung Gde Agung , pejuang Jawa Timur Mayor Jenderal ( Purn ) Prof Dr Mustopo, dan Brigjen TNI ( Purn ) Ignatius Slamet Rijadi. Hal ini tertuang dalam Keputusan Presiden nomor 066/TK/2007 tertanggal 6 November 2007.

Menurut Dirjen Sosial Gunawan Sumodingingrat, makna peringatan Hari Pahlawan 2007 ini berbeda dengan peringatan sebelumnya.

” Pahlawan, katanya, tidak mesti pejuang yang sudah meninggal dan berjasa banyak kepada bangsa Indonesia. Tetapi juga mereka yang bisa mengikis ketidak adilan, mampu melawan kebodohan mental dari tekanan politik, ekonomi…”

Lalu ditambahkannya “Ide Anak Agung Gde Agung pada awalnya Menteri Dalam Negeri Negara Indonesia Timur ( NIT ) yang kemudian menjadi Perdana Menteri NIT hingga Desember 1949.

Ia mendesak Irian Barat dimasukkan wilayah Republik Indonesia Serikat dan akhirnya Belanda menyerahkan Irian Barat setelah mengakui kedaulatan Indonesia.

Aku tertegun sejenak namun tak sempat menundukkan kepala untuk mengucapkan salut atas segala kiprah perjuangannya dalam menegakkan Republik ini serta dalam magnum opusnya dalam mendesak Irian Barat untuk dimasukkan ke wilayah NKRI, karena ada kilasan fikiran yang agak mengganggu diriku.

Kubalik balik lagi lembaran sejarah dan sisa catatan cerita generasi angkatan orang tuaku saat perjuangan fisik rakyat Bali dalam melawan Belanda NICA ditahun tahun setelah hengkangnya Jepang dari Indonesia.

Gambar dari WikiGenerasi ini adalah generasi Pak Item, Pak Cilik yang bergerilya dihutan setelah gugurnya Ngurah Rai, Darmayudha maupun Wijakusuma yang pernah dipenjarakan oleh Belanda di Penjara kolonial Pekambingan.

Cerita cerita mereka termasuk ayahku sendiri mengatakan bahwa Mr Anak Agung Gde Agung adalah seorang loyalis dan pengikut setia Belanda yang memusuhi para pejuang kemerdekaan di Bali.

Gambar dari WikiDalam salah satu ucapannya Anak Agung Gde Agung pernah mengatakan bahwa Ngurah Rai tak lebih dari sekedar pemimpin para extremis yang mengacaukan keamanan dan ketertiban orang Bali yang memiliki rajanya masing masing.

Ini katanya memang harus segera dilenyapkan, barangkali itulah sebabnya ia diam diam memberikan informasi kepada Dr Djelantik (yg dengan cerdas menyembunyikan simpatinya pada Republik dari AA Gde Agung) sekitar tahun 1948 agar jangan dulu masuk ke Bali.

“Para pemuda makin liar dan brutal” katanya ( tulisan dari biografi Dr AAM Djelantik, Memoirs of a Balinese Princess), siapapun yang masuk dari Jawa akan dianggap extremis oleh NICA.

Aku sempat tertegun sejenak, apakah Anak Agung Gde Agung ini yang dimaksudkan. Jika bukan yang manalagi sebab nama Anak Agung Gde Agung yang beken cuma putera Raja Gianyar yang sempat membentuk dan mengorganisir PPN ( Pemuda Pembela Negara ) yang membantu NICA mengejar dan menumpas para pejuang anak buah Ngurah Rai.

Puncaknya adalah ketika Anak Agung Gde Agung memerintahan mengeksekusi I Wayan Dipta, komandan pasukan Gerilya di Gianyar. Dipta bahkan dikuliti lebih dahulu kepalanya sebelum di eksekusi.

Jika orang ini yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional maka kupikir tentu sebuah ironi dan kecelakaan sejarah telah terjadi. Tapi tentu pemerintah tidaklah sebodoh itu, menurut Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah ( yg baru belakangan saya baca di Tempo 25 Nov 07 ), ada prosedur yang harus diikuti.

Menurut Undang Undang no 33 Tahun 1964 tentang Penetapan Penghargaan dan Pembinaan terhadap Pahlawan, proses pengajuan pahlawan harus diajukan oleh pemerintah daerah dengan gubernur sebagai Ketua Badan Pembinaan Pahlawan Daerah (BPPD). Selanjutnya diajukan ke Badan Pembinaan Pahlawan Pusat (BPPP).

Lalu Bachtiar menambahkan “Secara umum, tanpa cacat secara terus menerus”. Wah, jika ini benar berarti BPPP tidak dapat dipersalahkan dong. Betapa tidak, ini berarti rakyat Bali yang patriotik itu telah mengusulkan kepada Gubernur melalui wakil-wakilnya / DPRD BALI di TK I Bali untuk mengangkat Anak Agung Gde Agung sebagai Pahlawan mendampingi Ngurah Rai lawan bebuyutannya dalam kemelut melawan kolonialis Belanda di Bali.

Mungkinkah dalam satu benak bisa muncul dua orang yang berhadap hadapan sebagai lawan dianggap berjasa kedua duanya dalam menyingkirkan penjajah. Apakah dalam alam fikiran manusia Bali lalu tiba tiba muncul semacam waham schizoid, ambivalensi dan autisma dimana rasa senang dan benci muncul dalam satu saat yang bersamaan yang lazimnya tersimpan pada memori pasien-pasien schizophrenia?

Aku tak mau ambil pusing dg pikiran-pikiran aneh semacam ini, yang saya tahu udara politik Bali adem ayem saja, bahkan saat persiapan PILKADA pun tampaknya tak ada gejolak berarti.

Jika seandainya usulan Pahlawan Nasional ini telah masuk ke agenda DPRD Bali, tentulah dapat dipastikan akan terjadi bazaar pro dan kontra di masyarakat ataupun minimal di media mainstream semacam Bali Post atau media lokal lainnya, seperti halnya saat gencarnya usulan Pahlawan Nasional I Gusti Ketut Djelantik atau Patih Djelantik dari Buleleng (saat itu kami aktif melobi Wakil Ketua DPRD BALI asal Buleleng).

Dalam kasus Anak Agung Gde Agung benar benar sunyi senyap, sepi bagaikan nyepi. Ini tentu bukan saja membingungkan akan tetapi mirip sebuah lelucon yang direncanakan oleh aktor-aktor politik (yang merangkap kerja sebagai sejarawan) yang tidak kasat mata.

Seperti caption tulisan di Tempo : ADA PAHLAWAN DI JALUR TOL

Selesai membaca dan merenung segera kuangkat telepon dan diseberang sana terdengar suara ” Ada apa Tok ?, kau masih disana, kapan pulang…”.

Putu sahabat kentalku adalah seorang wartawan dan jurnaslis yang kini beralih profesi menjadi sastrawan penulis naskah naskah film.

Ayahnya mengalami gejolak politik dan perjuangan fisik sejak 1945 sampai 1949, hanya nasib baik saja yang menyebabkan dia tidak dibantai NICA saat banyak pejuang BALI dihabisi NICA di Tabanan, anehnya dia tidak pernah bercerita tentang orang tuanya, aku justru tahu dari orang lain.

Aku: ” Tu, kau baca media Indonesia ?”

Putu: ” ya, bacakan saja ! aku tak sempat membaca.”

Kadang jengkel juga aku dengan sikapnya yang ingin praktis, tapi itulah Putu seorang kawan yang selalu menganjurkan anjurkan aku untuk berhenti membaca dan mendorong-dorongku untuk menulis menulis dan menulis, kadang kurasakan semacam paksaan yang mengganggu juga walaupun tetap kunikmati.

Sering kukatakan padanya bahwa antara dia dan aku berbeda laksana bumi dan langit. Aku memang suka menulis tapi lebih suka membaca, sedangkan dia adalah maniak tulis yang tulisannya tersebar dibanyak media masa, dalam search google saja namanya ada ratusan ribu.

Aku: “Apakah kita biarkan saja orang yang dipercaya banyak jasa pada negara ini nyelonong menjadi pahlawan nasional?”

Putu: “Maksudmu?”

Aku: “Ya aku setuju dengan panitia BPPP yang memasukkannya kedalam nominasi pahlawan nasional jika penggalan busuk dari riwayat hidupnya ketika dia memerintahkan eksekusi pada para pejuang di Gianyar dan sikap anti pejuangnya itu direvisi”

Putu: “Tak mungkinlah”

Aku: “Mengapa tidak? mungkin saja, jika waktu kita undurkan ke 1945 lalu Anak Agung Gde Agung kita berikan surat yang mundur tahunnya bahwa dia akan diangkat sebagai pahlawan nasional kelak tahun 2007. (alas, tanpa surat imajiner inipun beliau sudah diangkat Pahlawan Nasional)

Putu: “Jadi simulasi waktu ?”

Terdengar tawa terkekeh diseberang sana.

Aku: “Bagaimana jika AA Gde Agung menolak, misalnya saat itu beliau bersama sahabat dekatnya tentu saja H.J. Van Mook masih sangat mengaggumi Ratu Juliana?”

Putu: “Tapi Indonesia merdeka ?”.

Aku: “Ya iyalah, tapi dibawah mahkota Belanda”.

Kembali Putu terkekeh.

Aku: “Tu masih ingatkah kau saat kita beramai ramai mendaftar jadi sukarelawan sesaat setelah mendengar pidato Bung Karno trikora 1962 di SMAN Singaraja untuk memaksa Belanda mengembalikan Irian Barat?”

“O ya, ya, saat itu bahkan banyak dari kita sampai dua kali mendaftar karena semangat patriotisme yang tinggi”, kata Putu bersemangat.

Aku: “Ya, tapi apakah para sejarawan yang kini menjadi anggota BPPD maupun BPPP pengusulan pahlawan nasional yang mengangkat AA Gde Agung bersama ketiga orang lainnya sudah lahir?”

Putu: “Sudah, tapi mungkin masih asyik bermain kuda kudaan dari batang pohon pisang”

Aku: “Tapi bisa juga seangkatan dengan kita, bahkan bukan hanya mendaftar terjun tapi sebagai bagian dari para pejuang bersama Benny Murdani atau Gde Awet Sara bergerilya di rimba Irian mencari tentara belanda.”

Putu: “Rasanya tak mungkinlah Tok!”

Aku: “Kenapa tidak? Seorang atau siapa saja yang menghayati perjuangan fisik melawan Belanda akan dengan mudah merasakan perbedaan antara pejuang dengan oportunis, antara pahlawan dengan pengkhianat, walaupun dipupuri dengan berbagaai jasa setebal kerak bumi.”

Putu: “Misalnya?”.

Aku: “Ya ambillah contoh pendapat Jenderal Purnawirawan Rais Abin ( yang malu malu mengkritik SBY ), itu tokoh militer yang pernah memimpin pasukan Garuda Dua ke Timur Tengah, bahkan dia menyaratkan bahwa pemimpin nasional atau negarawan harus memahami sejarah.”

Tidak seperti sekarang, penentuan pahlawan nasional seakan hanya merupakan bagian sekrup dari sebuah project pembangunan, note itupun bagian yang tidak begitu penting.

Jangan jangan Presiden tidak pernah membaca draft usulan itu lalu langsung ditandatangani saja setelah disodori oleh sekretarisnya (tentu ini nanti jika terbaca oleh orang orang terhormat itu akan dibantah habis-habisan dengan pelbagai data dan fakta sejarah, tak penting ada yang dilupakan atau sengaja dilupakan).

Putu: “Jadi Presiden, Sekertaris Negara itu tidak benar benar memahami sejarah?”.

“Hampir benar”, jawabku, “tapi karena Presiden dan Sekretaris Negara tak bisa disalahkan, tugasnya amat sibuk mengurusi hal-hal yang jauh lebih penting daripada sekedar pahlawan akhirnya beban tanggung jawab tentu ada pada kelompok BPPP itulah ” kataku.

Putu: “Jika ini berlanjut untuk pahlawan pahlawan yang akan datang selanjutnya?”

Aku: “Belum sejauh itu, tapi konsekuensi logis dari penentuan gelar pahlawan oleh Negara pada AA Gde Agung adalah akan muncul nama-nama jalan, bandara, atau patung serta bangunan bangunan lainnya.

Misalnya Jalan Anak Agung Gde Agung disamping jalan Ngurah Rai, patung Anak Agung Gde Agung berangkulan dengan patung Ngurah Rai, yang paling mengagumkan adalah penggantian nama Bandara Ngurah Rai dengan Bandara Anak Agung Gde Agung.”

Putu: “Kenapa ?”

Putu ingin penjelasan walaupun aku faham dia sudah tahu jalan fikiranku.

Aku: “Karena misalnya setelah dipilah pilah dan dibandingkan oleh oleh panitia sejarah yang piawai dan pintar pintar itu ( saya duga kebanyakan mereka adalah PhD atau jenderal sejarawan karier yang belum pernah menyaksikan perang ) maka Ngurah Rai berusia sangat singkat lahir 1917 gugur 1946, jadi usia cuma 29 tahun.

Jasapun cuma berperang dalam palagan Margarana, itu saja.

Sedangkan Anak Agung Gde Agung, dengan menghapus penghianatannya yang tak seberapa dan bisa dimaafkan (tak ada manusia yg sempurna bukan ?, cih !) itu wafat dalam usia hampir 90 tahun, sangat berjasa dalam berbagai peristiwa diplomasi dengan pihak Belanda.

Sehingga tanpa keikut sertaan Anak Agung Gde Agung di KMB, Republik ini tak akan segera terwujud.

Ngurah Rai hanya pahlawan lokal yang memimpin seratus extremist yang lalu mati konyol oleh kepahlawanan serdadu serdadu NICA ( yang kebanyakan terdiri dari bangsa awak ) dan beberapa pengkhianat pejuang yang membocorkan posisi Ngurah Rai pada saat terakhir.

Konon tanpa Ngurah Rai, Indonesia tetap merdeka, tapi tidak tanpa Anak Agung Gde Agung, he..eh !”.

Putu: “Itu pendapatmu?”

Aku: “Aku belum selesai berbicara…

Lalu barangkali dibatok kepala para cendekiawan ini sedang terpikirkan untuk mengangkat Raymond Westerling bersandingan dengan Ignatius Slamet Riyadi sebagai pahlawan pejuang.

Sekalian Ross van Tonningen penakluk Badung Tabanan dan Klungkung disamping Anak Agung Ngurah Denpasar yang pralaya di puputan Badung.

Gusti Made Jungutan patih Karangasem ( penghianat yang membelot kearah pasukan Belanda saat Perang Jagaraga 1848-1849 ) berdampingan bersama I Gusti Ketut Jelantik ( pahlawan Nasional ) patih Buleleng.

Ida Made Rai ( pemimpin perang banjar 1868, sedang kami usulkan sbg pahlawan nasional bersama Men Blegug dari Buleleng ) berdampingan bersama Ketut Liarta ( orang setia dan kepercayaan belanda dan patih Buleleng saat mendampingi Raja Anak Agung Djelantik Padang di Buleleng.

Gusti Gde Rai patih Lombok ( komandan rekrut laskar Lombok yang menyerbu Karangasem atas perintah Jenderal Michiel setelah jatuhnya buleleng ) berdampingan bersama Anak Agung Istri Balemas dari Klungkung yang membunuh Jenderal Michiels di perang Kusamba.

Atau siapa tahu bahkan Sultan Hassanuddin pada suatu saat yang tidak lama lagi akan berdampingan dengan Aru Palaka yang segera diangkat sebagai pahlawan nasional karena jasa jasanya membantu Belanda mengamankan Perjanjian Bungaya sehingga Negara menjadi bebas dari pemberontakan partisan Bugis Makassar yang mengganggu pelayaran VOC di laut Nusantara”.

Putu: “Lalu alasan apa yang mendasarinya?”.

Aku: “Banyak, dan karena telah masuk pada telaah para cendekiawan panitia yang berkaliber internasional dan tak diragukan semangat patriotiknya dalam menelaah peristiwa-peristiwa sejarah nasional, tak perlu kita ragukan.”

Putu: “Misalnya?”

Aku: “Ya, bahkan Anhar Gonggong mantan anggota BPPP pernah mengatakan ” Belum tentu federalis itu penghianat ( apakah dia bermaksud mengatakan : belum tentu penghianat itu federalis )”

Putu: “Wah itu namanya keblingder Tok ! ”

Aku: “Cendekiawan dan orang-orang apalagi yang amat memahami sejarah tak mungkinlah keblinger Tu, kita bahkan harus berterimakasih atas kerja keras mereka ..he..he”

Diseberang sana terdengar Putu terkekeh kekeh lagi.

Lalu terdengar suara klik ditelepon hubungan terputus, aku sadar ditempat kerja ini tak dibenarkan bicara lebih dari sepuluh menit.

Pondok Kopi,
Selasa 20 Nov 2007, jam 21.20 .

(Aku menundukan kepala sesaat mengenang I Gusti Ngurah Rai dan 99 pejuang lainnya yang gugur dalam palagan Margarana tepat hari ini 61 tahun yang lalu).

Soegianto Sastrodiwiryo.