Prof Dr IGNG Ngurah Dalam Kenangan (1)

16 Desember 2007

Prof NgurahPerjumpaan saya yang pertama dengan Dr IGNG Ngurah adalah sekitar 1965 , saat saya baru kuliah di tingkat I FK Unud dan beliau baru saja serah terima jabatan sebagai Dekan FK Unud dari Dr AAM Djelantik.

Saat itu saya telah mendapatkan kesan sebuah pribadi yang tenang dengan tatapan mata yang jernih yang menghiasi wajahnya yang anggun berwibawa , percaya diri namun rendah hati.

Barangkali kombinasi antara tatapan dan senyuman yang selalu hadir ketika menyapa mahasiswa atau siapa saja yang berkepentingan menemui beliau merupakan kesan tersendiri.

Hari hari beliau yang yang panjang, neurolog yang merangkap menjadi dosen dan dua kali masa jabatan sebagai rektor ( 1968-1977 ) , diselingi saat pengukuhan sebagai gurubesar ilmu penyakit syaraf ( neurology ) 1968 , benar benar menangkap citra yang mengesankan yang agak unik bagi diriku.

Kesan ini muncul saat saya co schap dibagian penyakit syaraf di RSU Wongaya Denpasar. Seorang dosen dan neurolog yang pada saat praktikum mahasiswa tidak pernah mendelegasikan tugas-tugasnya yang dianggap penting kepada assistennya.

Yang paling terkesan adalah saat beliau seorang diri membersihkan dan mensterilkan kulit ruas tulang belakang seorang pasien wanita setengah baya yang baru menderita hemiplegia.

Sepasang tangan yang lembut, kuat tapi terampil mengarahkan ujung jarum manset lumbal punctie ke sela sela ruas tulang belakang yang telah ditetapkan.

Tindakan lumbal punctie hanya bisa berhasil baik jika dilakukan oleh seseorang yang benar-benar expert, tenang, percaya diri serta memiliki tangan yang terampil

Bintik-bintik air bermunculan dari dahi beliau yang bersih, seorang assisten mengusap keringatnya dan pada spuit tampak cairan jernih dari sumsum tulang belakang meluncur masuk kedalam silinder kaca.

Para mahasiswa coschap yang dari semula memperhatikan dengan agak tegang tampak menghela nafas panjang. Professor Ngurah tersenyum.

Kesan lain adalah ketika saya harus menjawab pertanyaan beliau saat ujian. Tampak beliau mengerutkan dahinya karena jawabanku dinilai kurang memuaskan, wah rasanya setiap bagian kepala ini amblas kedalam bumi.

Saat ujian beliau tegas tanpa kompromi, karena jika diagnose sudah salah maka kandidat tetap harus her mengulang lagi, karena bukankah jika kesalahan diagnose dilakukan seorang medicus praktikus taruhannya bisa nyawa pasiennya sendiri.

Saat saya tugas di NTT, yaitu di Puskesmas Fatumnasi Soe dan RSU Soe ( caretaker sementara Kepala RSU Soe, 1978 ) antara 1977 – 1979, sebagai dokter Inpress.

Saya sempat cuti pulang sebulan ke BALI. Saat itu 1978 . Keinginan untuk bertemu Prof Ngurah begitu kuat. Setelah naik bis dari Singaraja ke Denpasar, maka kurang lebih jam 10 pagi saya telah bisa sampai di RSU Wongaya.

Perasaan senang dan was was menyatu, jangan jangan selesai visite di zaal pasien lalu langsung kekampus untuk mengajar dan tentunya akan lebih sulit lagi ditemui jika sedang mengajar.

Syukurlah keberuntungan masih di pihakku , saat saya bergerak ke koridor yang menuju ruangan kepala bagian, beliau baru saja melangkah keluar.

” Selamat pagi Prof ” kataku sambil menganggukkan kepala .

Prof Ngurah berhenti dan memperhatikan orang yang menyapanya.

Beliau tersenyum dalam sebuah suara nada pengenalan ” Selamat pagi, yang tugas di Timor ?” katanya sambil mengarahkan telunjuk jarinya padaku.

” Benar Prof , saya Soegianto ”

Beliau mengangguk anggukkan kepalanya beberapa kali dan kami bersalaman lalu terlibat pembicaraan kecil. Seperti dugaanku rupanya beliau harus bergegas keluar RSU Wongaya, untuk memberikan kuliah.

Karena saat itu beliau sudah tidak menjabat Rektor, tapi masih aktif mengajar dan masih menjabat kepala bagian Neurologi. Saya tidak menduga bahwa beliau masih mengingat tempat dimana saya ditugaskan, padahal saat wisuda empat orang di awal 1976 bersama Dr Bakta ( kini Rektor Unud ), Dr Sumeda Pindha, Dr Dewa Madra Adnyana ( alm ) telah berlalu dua tahun lebih .

Satu satunya hal yang paling kusesali dalam hidupku tentang beliau adalah keinginan untuk memberikan kenanga kenangan pada beliau ( sebenarnya sudah sejak mulai kutulis telah kurencanakan ) sebuah buku tulisanku ” Perjalanan Danghyang Nirartha, 1470 – 1560 ” yang terbit tahun 1999 tidak pernah terlaksana.

Namun kesibukan tugas di Papua dan Laut China Selatan tampaknya telah menyebabkan semuanya terlupakan. Bahkan baru kusadari beliau telah berpulang ke Haripada pada tahun 2001, setelah baru baru ini membaca sebuah tulisan disebuah Blog.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Semoga ALLAH SWT memberikan tempat yang mulia disisiNYA sesuai dengan amalan amalan beliau di dunia pendidikan dan pengabdian masyarakat dan kepatriotannya di zaman kolonialisme Jepang dan penjajahan Belanda.

Jasa dan partisipasi aktif Prof Dr IGNG Ngurah dalam dunia pendidikan, khususnya di Universitas Udayana tampak nyata dalam sebuah arena histories yang terang benderang dalam kiprahnya sebagai pemrakarsa, pendiri, pembina , pengembang serta pengabdi yang pada gilirannya sangat mengangkat nama Universitas Udayana.

Universitas Udayana, tak dapat diragukan lagi sangat berutang kepada pribadi, Sang Mpu Pendidikan ini yang turut membidani lahirnya Universitas Udayana. Bobot dan citra pendidikan di Bali, dan dengan demikian Indonesia terangkat naik sejak lahirnya UNUD 45 tahun silam ( 1962 ).

Bobot kepribadiannya yang jujur , tulus, sederhana dan penuh pengabdian telah meninggalkan kesan tersendiri bagi para mahasiswa , alumni dan dosen Civitas Academika. Citra seorang dosen yang berwibawa, tegas, disiplin dan mengayomi sulit dilepaskan dari Prof IGNG Ngurah.

Pada saatnya ini merupakan proses berkelanjuan yang terinternalisasi dalam diri para mantan mahasiswanya setelah mereka terjun ke masyarakat maupun memilih menjadi dosen.

Pada diri saya beliau tidak bisa lain adalah tokoh idola. Sungguh di era globalisasi yang tak jarang dipenuhi oleh chaos dan ketidakpastian nilai ini, tokoh seperti Prof Dr IGNG Ngurah menjadi barang langka.

Namun barangkali cara yang lebih baik untuk menghargai dan menghormati Prof Dr IGNG Ngurah tidaklah selesai dengan menabur pujian dan kata indah semata.

Realitas pribadi IGNG Ngurah bisa kita mulai dengan mencoba menyimak komunitas dimana beliau dilahirkan dan dibesarkan, sehingga realitas seorang Ngurah bisa dimunculkan laksana mencuci negative film yang telah lama tersimpan lalu merendamnya dalam larutan Argentum untuk kemudian muncul dalam cetakan kertas film dan terbacalah ” What kind of man is he “.

5 Tanggapan to “Prof Dr IGNG Ngurah Dalam Kenangan (1)”

  1. saraswati Says:

    dr Soegianto Sastrodiwiryo,
    terima kasih banyak anda telah menulis sepercik kenangan indah tentang Prof.dr.I G N G Ngoerah.
    Demikianlah beliau. Seandainya terdapat kenangan yang tak indah, semoga dimaafkan. Semoga anak didik yang membaca blog ini atau siapapun yang mengenalnya, dapat serta menuliskan kenangannya tentang Prof. Ngoerah.

  2. masye. putri seorang pejuang Says:

    yth dr soegianto,
    saya sangat menghormati orang yang bisa menghargai gurunya. Saya angkat topi pada anda…dan anda bukan satu2nya karena saya juga sangat hormat pada beliau, orang yang konsisten dalam ilmu, bertanggungjawab pada keluarga dan sangat menyayangi semua mahasiswanya. semoga kenangan atas beliau bisa menjadi inspirasi bagi generasi penerus dan berjuang dalam pendidikan dan pelayanan kesehatan .
    salam hormat saya pada ibu Ngoerah dan keluarga

  3. edratna Says:

    Betapa senangnya membaca tulisan seorang dokter di blog. Mungkin bapak seumur saya (saya angkatan 70 di IPB)….dan ternyata bapak adalah ayahnya Wibisono Sastrodiwiryo. Berbahagia sekali bapak mempunyai putra seperti mas Wibisono…..mungkin dia seumur anak saya pertama.
    Tulisan bapak memberikan inspirasi bagaimana kita harus menghargai para pendahulu kita, mencontoh hal-hal yang baik.


  4. […] Menurut ayah dalam ilmu kedokteran Pak Martin menunjukan gejala Schizophrenia yang banyak ditemui di RS Wangaya. Ayah memahami ilmu neurologi dan psikiatri berkat bimbingan Prof Ngurah. […]

  5. yahya umar Says:

    Assalamualaikum wr. wb.

    Masih ingat yahya umar Dok. Saya baru baca kenangan anda dengan Prof. Ngoerah. Dan DPRD Bali sudah memutuskan utk menetapkan beliau sebagai nama RS terbesar di Bali, yakni RS Sanglah. Nantinya RS Sanglah akan ganti nama menjadi RS Prof. Ngoerah.
    Kalau ingin berita politik Bali terkini bisa baca: http://www.politik-bali.blogspot.com atau ingin informasi sastra dan budaya baca: http://www.kampungkata-kata.blogspot.com.
    Oya Dok, saya kehilangan nomor kontak (HP) dokter. Kalau sempat anda bisa kontak saya di 08123992649

    Wassalam
    Yahya Umar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: