Patriotisme Di Pinggir Jurang

22 November 2007

Tulisan ini seyogyanya adalah tanggapan untuk komentar sdr Ratu Adil yang bosan dengan Blog saya. Namun dalam menulis tanggapan tersebut terinspirasi untuk sekedar menyinggung beberapa hal menyangkut patriotisme.

Sdr Ratu Adil ( maaf apakah Anda memakai nama Ratu Adil ini karena terinspirasi oleh komandan Angkatan Perang Ratu Adil , APRA Kapten Raymond Westerling yang membantai anggota TRI di Jawa Barat ? ) , walaupun Anda menyembunyikan nama dalam morphema Ratu Adil saya masih berusaha berfikiran positip tentang Anda.

Saya tawarkan pada Anda untuk menulis tentang apa saja yang tidak membosankan , tapi rupanya Anda sangat allergy dengan angkatan pejuang Ngurah Rai dan sangat bersimpati pada Pahlawan Nasional yang baru Anak Agung Gde Agung.

Itupun tidak masalah, kan masih termasuk kebebasan berpendapat. Untuk Anda ketahui bahwa saya mengenal beliau ( Ide Anak Agung Gde Agung )dalam usia beliau yang sudah senja saat ada acara peringatan Mahatma Gandi di Ashram Candidasa 1993 , dihadiri Gus Dur dan tentu saja Ibu Gedong Bagoes Oka pemimpin Ashram.

Saya melihat sebuah pribadi yang tenang , memiliki pengetahuan yang luas dan mau berbagi atau membagikan pengetahuannya kepada siapa saja. Bahkan beliau menjawab dengan telaten pertanyaan saya tentang phenomena ” Jaran Pondong ” yang sempat menjadi urat nadi transportasi rakyat bali sebelum derasnya masuk mesin roda dua dan roda empat dari Jepang .

Banyak persamaan pendapat saya dengan beliau tentang perasaan hilangnya phenomena unik ini, bahkan beliau mempersilahkan saya buat singgah ke puri Gianyar untuk mencopy data apa saja yang saya perluka. Tawaran yang simpatik sangat saya hargai . Sayang karena kesibukan saya sampai beliau wafat saya belum sempat datang ke Puri Gianyar.

Saat percakapan itu sempat terdokumentasi dalam foto saya dg beliau di Bali Post.
Saya malah sempat berfikir, barangkali Anak Agung Gde Agung ini cukup arif untuk merasakan posisinya diantara para pejuang di Bali.

Jika roh bisa ditanyai jangan jangan Anak Agung Gde Agung tidak berminat untuk diangkat menjadi Pahlawan Nasional dan memilih untuk tidak melihat Bali kemelut gara gara pengangkatannya.

Karena siapa bisa menolak apa yang sudah terjadi, kecuali dg jantan mengakui bahwa itu sudah terjadi dan menjadi tanggung jawabnya pribadi ( note : peristiwa exekusi pejuang pejuang Gianyar yang dengan tegas dan jelas menunjukkan dimana posisi Anak Agung Gde Agung ). Tapi maaf ini hanya pendapat dan perasaan saya saja.

Dalam kapasitasnya sebagai intelektual yang brilliant saya harus menghargai orang tua ini. Indonesia sebenarnya mendapat keuntungan yang tidak sedikit dari kiprahnya dibidang diplomasi shg Bung Karno dan Pak Harto pun tidak segan segan untuk memakai dan memanfaatkan keahliannya.

Ini bukan ambivalensi fikiran saya, kita harus membedakan perasaan kita rasa benci dll dengan fakta sejarah yang telah terjadi. Ada sebuah buku yang sebenarnya cukup bagus ditulis oleh wartawan Kompas Aco Manafe berjudul ” Dr Ide Anak Agung Gde Agung: Keunggulan Diplomasinya Membela Republik” , yang nampaknya bertujuan untuk memperkuat fakta fakta bagi usulan gelar Pahlawan Nasional .

Tapi sayang sekali karena tidak ( atau sengaja karena topiknya adalah diplomasi ? )
menyinggung sisi lain yang gelap dari sikap Anak Agung Gde Agung saat bekerjaasma dengan NICA Belanda dalam periode perjuangan pisik di Bali maka buku ini terasa timpang dan cenderung memaksakan penilaian dari satu sisi saja.

Padahal salah satu kriteria Pahlawan Nasional seperti dikatakan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah adalah : tidak pernah cacat terus menerus. Padahal Aco Manafe seharusnya mengerti situasi sejarah dan perasaan komunitas pejuang bali karena dia pernah kuliah dan tinggal cukup lama di Bali ( UNUD ) ditahun 60 an.

Dalam hal Keputusan Pemerintah soal pengangkatannya maka disini ada sebuah nilai yang tidak pas dan bertentangan dengan norma keadilan dan nilai kepahlawana itu sendiri.Republik ini berdiri karena perjuangan rakyat dan para pejuangnya baik dari sisi militer maupun diplomasi. Tapi sayang sekali masih ada cendekiawan berkelas PhD yang berani mengatakan bahwa kemerdekaan Indonesia didapatkan bukan karena perlawanan bersenjata tapi karena strategi diplomasi.

Orang ini memutlakkan kesimpulannya karena merasa ahli dan piawai soal sejarah. Bayangkan saja jika Panglima Sudirman tidak berpalagan Ambarawa menghantam sekutu sampai mundur sejauh Semarang, dan lalu Bung Karnolah yang turun tangan agar jangan sampai TNI saat itu menghabisi tentara sekutu yg terdesak dan terkepung itu dihabisi sama sekali ( Inggris dan Nica ) karena terkunci dalam kepungan laskar Pak Dirman – diplomasi dan kekuatan militar bahu membahu menegakkan citra Republik ini.

( Bung Karno sangat bijaksana dg memerintahkan Pak Dirman untuk melepas kepungannya agar ditingkat internasional kita tidak terkesan Pro Jepang dan melawan Sekutu, ini strategi yang jitu gabungan militer dan diplomasi )

Bayangkan juga jika Bung Tomo tidak berorasi dan rakyat Surabaya itu tidak berani melawan tank tank sekutu dengan bambu runcing dan misalnya memilih mengikuti surat selebaran ancaman panglima sekutu Jendral Mallaby untuk meletakkan senjata. Kita benar benar jadi bangsa tempe dan 10 November tak akan pernah ada.

Untuk Anda ketahui juga bahwa jauh sebelum pejuang pejuang Palestia berani menubrukkan dirinya ke tank2 Izrael maka manusia Indonesa yang bernama arek arek Suroboyo itu sudah berani menghadang tank2 sekutu just hanya dg bambu runcing saja -10 November 1945 )

Terroris ?

Ya, bagi Belanda para pejuang kemerdekaan tak lebih daripada teroris. Tapi bukan kelompok Doctor Azahari atau Nurdin M Top yang lenggang kangkung masuk Indonesia dari Malaysia lalu membunuhi rakyat Indonesia melalui jaringannya di Indonesia ( Amrozy Cs )

Bayangkan juga jika Gusti Ngurah Rai turun gunung lalu menyerahkan senjatanya pada Overste Termeulen di Tabanan, Palagan Margarana tak pernah ada dan manusia bali akan dikenang sebagai manusia penakut dan pengecut yang cuma piawai dalam upacara upakara ritus rutinitas.

Tapi ijinkan saya disini bertanya , hati siapa di Bali yang tak tergetar jika setiap 20 November nama Ngurah Rai disebut dan diupacarai di Marga.

Jika Anda masih ragu ( sampai disini semoga Ratu Adil tidak bosan, karena bagi mereka yang tak memiliki barang setetes saja rasa patriotisme ini memang benar benar sangat membosankan ..he..he..) akan saya cantumkan surat jawaban Ngurah Rai kepada Overste Termeulen yang merayu Rai agar turun gunung dan bekerjasama dengan Belanda ( bandingkan dengan sikap Anak Agung Gde Agung yang berkolaborasi dengan kolonial Belanda saat itu )

………………………..18 Mei 1946.

Kepada
Jth.Toean Overste Termeulenb di Denpasar
Merdeka !

…………………………….

Soal perundingan , kami serahkan kepada kebijaksanaan Pemimpim Pemimpin kita di Djawa .Bali boekan tempatnya peroendingan diplomatik. Dan saya boekan kompromis.

Saya atas nama rakyat hanya menghendaki lenyapnya Belanda dari poelau Bali atau kami sanggoep dan berdjandji bertempur sampai tjita tjita kita tertjapai.

Selama Toean tinggal di Bali , poelau Bali tetap menjadi belanga pertoempahan darah , antara kita dengan pihak Toean.

Sekali merdeka tetap merdeka .

Dewan Perdjoeangan Bali

I Gusti Ngurah Rai .

Saudara Ratu adil yang baik, bisakah Anda membayangkan bagaimana perasaan para anggota keluarga para pejuang Bali baik yang gugur dalam Palagan Margarana maupun ditempat lain ataukah yang masih hidup mendengar pengangkatan Ida Anak Agung Gde Agung sebagai Pahlawan Nasional – alas bagaimana jika Rai masih hidup dan melihat peristiwa ini, mungkin gelar pahlawan nasional beliau kembalikan dengan tulus ichlas mengingat definisi kepahlawan sesuai zaman telah bergeser 180 derajat.

Jika Anda adalah salah seorang daripada keluarga mereka maka tanyakanlah kepada yang masih hidup atau siapa saja posisi perasaan mereka.

Pengangkatan Anak Agung Gde Agung sebagai Pahlawan nasional akan memberikan dampak yang memecah belah komunitas rakyat bali yang gandrung dengan nilai nilai kebenaran dan kepahlawanan. Ini juga menghina para keluarga pejuang ( kecuali beberapa penghianat yang pandai berpura pura ).

Terjadi anomie antara nilai nilai perjuangan, ketidak pastian dan konflik dalam wacana kepahlawanan diantara generasi muda berikutnya.

Akhirnya kita bisa sampai pada kesimpulan yang terasa naif tapi sebenarnya tidak, jangan jangan memang ada skenario besar untuk mensplitting rasa kesatuan dan persatuan rakyat Bali dan Indonesia umumnya, yang dilakukan oleh para oportunis sehingga Bom Bali satu dan dua bisa berlanjut menjadi bom bali tiga yang bukan pisik tapi mental psikologis.

Rakyat bali yang jujur dan lugu itu oleh politician yang tak kasat mata dipaksa untuk memilih antara Anak Agung Gde Agung atau Ngurah Rai. Ini menjadi amat jelas jika kita perhatikan betapa mandulnya koran koran di bali – sampai detik tulisan ini – ( Bali Post misalnya ) untuk tidak mengangkat sebuah tulisan artikel pokok yang memaparkan fikiran para cendekiawan dan sejarawannya terhadap pengangkatan Anak Agung Gde Agung.

Koran Tempo masih kita hargai karena menulis “Pahlawan Di Jalan Tol“, walaupun covernya masih lebih penting wajah Roy Marten yang terlibat Narkoba, karena tuntutan pasaran pembaca memang lebih gairah dg kasus2 kriminal daripada membicarakan Pahlawan.

Di Bali tak kurang sejarawan piawai atau intelektual yang mampu mengangkat sebuah tulisan yang jujur dan berimbang tentang ketokohan Anak Agung Gde Agung lalu melakukan komparasi atas rasa patutnya tokoh ini ditampilkan sebagai Pahlawan Nasional.

Namun jika mass media telah dikondisikan sedemikian rupa sehingga setiap tulisan kritis selelau diblok and filtrated maka jangan salahkan sejarawannya tak akan mampu berbuat apa apa.

Akirnya menyedihkan sekali bahwa tulisan sekelas orang orang patriotik semisal Ir Wayan Windia itu cuma diberi jatah surat pembaca saja. Benar benar sangat menyedihkan. Semoga tak adalah konspirasi untuk menggagalkan itikad baik tulisan orang orang yang memang berkaliber buat itu.

Yang lebih mengherankan lagi mengapa jika ada ketidak adilan penyelewengan dana dana pemerintah oleh oknum2 legislative maupun executive maka para mahasiswa dengan beringas berbondong bondong demonstrasi, tapi buat korupsi nilai atau value yang dilakukan oleh pemerintah dalam penentuan gelar pahlawan nasional maka arena pernyataan pendapat tiba tiba sunyi senyap.

Tapi jangan salahkan juga mahasiswa generasi muda, karena barangkali spt halnya saudara Ratu Adil ini dengan sangat marah dan tegas mengatakan bahwa tulisan tentang kepahlawanan atau kepenghianatan seseorang itu menjadi sangat membosankan . Ini sangat menyedihkan.

Barangkali yang salah adalah generasi terdahulu ( sdr Ratu Adil maaf Anda lahir tahun berapa ya ? ), yang berwenang memberikan pelajaran sejarah buat putera puteranya.

Saya tutup jawaban saya pada Ratu Adil ini dengan adagium ” bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa mnghargai para pahlawannya ”

Siapa tahu suatu saat nanti Sdr Ratu Adil menjadi salah seorang Presiden Republik Indonesia diabad 21 ini. Sehingga sesuai dg namanya bisa menjadi ” Ratu Adil ” , Presiden yang benar benar adil dan faham sejarah , dan tak akan pernah menandatangani Surat Keputusan Pengangkaan Pahlawan Nasional jika bukan Pahlawan Nasional yang memenuhi syarat.

Note : Sebenarnya saya mengharapkan ada tulisan putera Mr Anak Agung Gde Agung dalam media yang berbahasa Indonesia dan bukan hanya di Jakarta Post yang berbahasa Inggris ( beliau adalah mantan Menteri Sosial di zaman Presiden Gus Dur, dg nama sama dg ayahandanya ) , sehingga ada pemberitaan yang agak berimbang dan kita tidak perlu apriori pada siapapun dalam mencari nilai kebenaran .

Salam,

Soegianto Sastrodiwiryo.

5 Tanggapan to “Patriotisme Di Pinggir Jurang”

  1. Ray Says:

    Ada sedikit hal yg menganggu saya, entah kebetulan atau tidak, setelah kemarin hari saya memberikan komentar di postingan “pejuang atau pengkhianat”, tadi malam di tembok pagar saya ada sebuah medali, di bagian depan tertulis “Pradjurit Setia VIII” di bagian belakangtertulis Republik Indonesia, dengan Pita warna abu abu biru (abu abu – biru – abu abu).

    Saya tidak tahu apakah medali ini asli atau tiruan atau apa.. warnanya sudah agak kusam, sepertinya dibuat dari kuningan atau perunggu.

    Apakah ini merupakan simbol penolakan dari sebuah pengangkatan seorang pahlawan yg tidak di inginkan? Wallahu ‘alam.

    lantas siapa yg meletakkan medali tersebut di tembok saya? besok medali tersebut akan saya scan sebagai bukti.

  2. Ray Says:

    Saya sudah pasang postingan soal medali itu, tapi sepertinya bukan medali buat para pejuang, tapi medali untuk Militer (entah tentara atau polisi), meski begitu, saya yakin Medali itu adalah sebagai tanda penghormatan atas jasa mereka yg mendapatkannya.

    Maaf kalo komentar saya terkesan seperti spam karena tidak berhubungan dengan postingan. akan tetapi saya bener bener membaca postingan anda dan sangat menarik sampai saya tidak bisa berkomentar🙂

    wassalam

  3. chazzuka Says:

    Bayangkan juga jika Gusti Ngurah Rai turun gunung lalu menyerahkan senjatanya pada Overste Termeulen di Tabanan, Palagan Margarana tak pernah ada dan manusia bali akan dikenang sebagai manusia penakut dan pengecut yang cuma piawai dalam upacara upakara ritus rutinitas.

    Sebagai orang bali saya bangga anda menulis hal tersebut, dan hemat saya hal itu sangatlah benar adanya.

    tetapi mengenai kemelut anak agung gde agung mungkin anda perlu menambah kutipan (dengan rujukan) sehingga bisa menambah point untuk dipertimbangan tentang kadar kepahlawanan (?penghianatan) beliau (at least buat saya sendiri)


  4. […] But now we are not in that era anymore. We are able to speak as long as it can be addressed. In this case the writer is not accusing that there is a lie in the life story of Ide AA Gde Agung. No. But maybe there’s something hidden and not to be exposed to the society which makes the veterans in Bali who experienced the struggle on 1945-1948 (hopefully I’m wrong – borrowing the style of Soegianto Sastrodiwiryo). […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: