Pejuang Atau Pengkhianat?

20 November 2007

Saat itu 10 November 2007, jam sepuluh pagi roomboy masuk ke kamarku dan meletakkan beberapa lembar koran dan majalah diatas meja.

Memang secara teratur hampir setiap hari selalu ada kiriman dari Jakarta ketempat kami bekerja. Sebuah tanker raksasa yang sudah puluhan tahun mengapung di teluk Jakarta.

Kuambil salah satu, Media Indonesia, karena isinya yang kuanggap paling lengkap sosial, politik, ekonomi, kesusastraan dan budaya, selain aku juga pengemar berat Andy Kick dan Republik Mimpi.

Ketika sampai kehalaman 16 kubaca tulisan yang hampir tak dapat kupercaya, tapi telah kuperkirakan. SK Pengangkatan Anak Agung Gde Agung sebagai Pahlawan Nasional. Perkiraanku itu telah kutulis dalam Blogku ( baca Peran Tokoh di Grey Area ) tentang kemungkinan pengangkatan tokoh-tokoh yang pro Belanda hanya terpaut dua minggu sebelum pengumuman pahlawan nasional yang baru oleh Presiden .

Dalam tulisan itu saya perkirakan, jika generasi yang kemudian tidak memahami sejarah bangsanya dengan baik jangan terkejut jika dua puluh tahun lagi atau akhir abad ini ada orang orang pro Belanda atau penghianat yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

Barangkali saat aku sudah pindah alamat ke negeri antah berantah. Perkiraan nampakmya tidak meleset, hanya waktunya bukan puluhan tahun tapi ukuran beberapa hari saja. Waktunya salah, tapi visinya akurat. Benar benar sebuah percepatan yang unpredictable.

Berikut ini kutipan dari Media Indonesia, 10 Nov 2007.

“…Penghargaan : Presiden Tetapkan Empat Pahlawan Nasional Baru. Dalam memperingati Hari Pahlawan 10 November 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahi gelar dan tanda kehormatan sebagai pahlawan kepada empat mantan jenderal dan seorang sipil.

Empat nama tersebut adalah pejuang Sumatera Selatan Mayor Jenderal ( Purn ) dr Adnan Kapau Gani , pejuang Bali Dr Ide Anak Agung Gde Agung , pejuang Jawa Timur Mayor Jenderal ( Purn ) Prof Dr Mustopo, dan Brigjen TNI ( Purn ) Ignatius Slamet Rijadi. Hal ini tertuang dalam Keputusan Presiden nomor 066/TK/2007 tertanggal 6 November 2007.

Menurut Dirjen Sosial Gunawan Sumodingingrat, makna peringatan Hari Pahlawan 2007 ini berbeda dengan peringatan sebelumnya.

” Pahlawan, katanya, tidak mesti pejuang yang sudah meninggal dan berjasa banyak kepada bangsa Indonesia. Tetapi juga mereka yang bisa mengikis ketidak adilan, mampu melawan kebodohan mental dari tekanan politik, ekonomi…”

Lalu ditambahkannya “Ide Anak Agung Gde Agung pada awalnya Menteri Dalam Negeri Negara Indonesia Timur ( NIT ) yang kemudian menjadi Perdana Menteri NIT hingga Desember 1949.

Ia mendesak Irian Barat dimasukkan wilayah Republik Indonesia Serikat dan akhirnya Belanda menyerahkan Irian Barat setelah mengakui kedaulatan Indonesia.

Aku tertegun sejenak namun tak sempat menundukkan kepala untuk mengucapkan salut atas segala kiprah perjuangannya dalam menegakkan Republik ini serta dalam magnum opusnya dalam mendesak Irian Barat untuk dimasukkan ke wilayah NKRI, karena ada kilasan fikiran yang agak mengganggu diriku.

Kubalik balik lagi lembaran sejarah dan sisa catatan cerita generasi angkatan orang tuaku saat perjuangan fisik rakyat Bali dalam melawan Belanda NICA ditahun tahun setelah hengkangnya Jepang dari Indonesia.

Gambar dari WikiGenerasi ini adalah generasi Pak Item, Pak Cilik yang bergerilya dihutan setelah gugurnya Ngurah Rai, Darmayudha maupun Wijakusuma yang pernah dipenjarakan oleh Belanda di Penjara kolonial Pekambingan.

Cerita cerita mereka termasuk ayahku sendiri mengatakan bahwa Mr Anak Agung Gde Agung adalah seorang loyalis dan pengikut setia Belanda yang memusuhi para pejuang kemerdekaan di Bali.

Gambar dari WikiDalam salah satu ucapannya Anak Agung Gde Agung pernah mengatakan bahwa Ngurah Rai tak lebih dari sekedar pemimpin para extremis yang mengacaukan keamanan dan ketertiban orang Bali yang memiliki rajanya masing masing.

Ini katanya memang harus segera dilenyapkan, barangkali itulah sebabnya ia diam diam memberikan informasi kepada Dr Djelantik (yg dengan cerdas menyembunyikan simpatinya pada Republik dari AA Gde Agung) sekitar tahun 1948 agar jangan dulu masuk ke Bali.

“Para pemuda makin liar dan brutal” katanya ( tulisan dari biografi Dr AAM Djelantik, Memoirs of a Balinese Princess), siapapun yang masuk dari Jawa akan dianggap extremis oleh NICA.

Aku sempat tertegun sejenak, apakah Anak Agung Gde Agung ini yang dimaksudkan. Jika bukan yang manalagi sebab nama Anak Agung Gde Agung yang beken cuma putera Raja Gianyar yang sempat membentuk dan mengorganisir PPN ( Pemuda Pembela Negara ) yang membantu NICA mengejar dan menumpas para pejuang anak buah Ngurah Rai.

Puncaknya adalah ketika Anak Agung Gde Agung memerintahan mengeksekusi I Wayan Dipta, komandan pasukan Gerilya di Gianyar. Dipta bahkan dikuliti lebih dahulu kepalanya sebelum di eksekusi.

Jika orang ini yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional maka kupikir tentu sebuah ironi dan kecelakaan sejarah telah terjadi. Tapi tentu pemerintah tidaklah sebodoh itu, menurut Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah ( yg baru belakangan saya baca di Tempo 25 Nov 07 ), ada prosedur yang harus diikuti.

Menurut Undang Undang no 33 Tahun 1964 tentang Penetapan Penghargaan dan Pembinaan terhadap Pahlawan, proses pengajuan pahlawan harus diajukan oleh pemerintah daerah dengan gubernur sebagai Ketua Badan Pembinaan Pahlawan Daerah (BPPD). Selanjutnya diajukan ke Badan Pembinaan Pahlawan Pusat (BPPP).

Lalu Bachtiar menambahkan “Secara umum, tanpa cacat secara terus menerus”. Wah, jika ini benar berarti BPPP tidak dapat dipersalahkan dong. Betapa tidak, ini berarti rakyat Bali yang patriotik itu telah mengusulkan kepada Gubernur melalui wakil-wakilnya / DPRD BALI di TK I Bali untuk mengangkat Anak Agung Gde Agung sebagai Pahlawan mendampingi Ngurah Rai lawan bebuyutannya dalam kemelut melawan kolonialis Belanda di Bali.

Mungkinkah dalam satu benak bisa muncul dua orang yang berhadap hadapan sebagai lawan dianggap berjasa kedua duanya dalam menyingkirkan penjajah. Apakah dalam alam fikiran manusia Bali lalu tiba tiba muncul semacam waham schizoid, ambivalensi dan autisma dimana rasa senang dan benci muncul dalam satu saat yang bersamaan yang lazimnya tersimpan pada memori pasien-pasien schizophrenia?

Aku tak mau ambil pusing dg pikiran-pikiran aneh semacam ini, yang saya tahu udara politik Bali adem ayem saja, bahkan saat persiapan PILKADA pun tampaknya tak ada gejolak berarti.

Jika seandainya usulan Pahlawan Nasional ini telah masuk ke agenda DPRD Bali, tentulah dapat dipastikan akan terjadi bazaar pro dan kontra di masyarakat ataupun minimal di media mainstream semacam Bali Post atau media lokal lainnya, seperti halnya saat gencarnya usulan Pahlawan Nasional I Gusti Ketut Djelantik atau Patih Djelantik dari Buleleng (saat itu kami aktif melobi Wakil Ketua DPRD BALI asal Buleleng).

Dalam kasus Anak Agung Gde Agung benar benar sunyi senyap, sepi bagaikan nyepi. Ini tentu bukan saja membingungkan akan tetapi mirip sebuah lelucon yang direncanakan oleh aktor-aktor politik (yang merangkap kerja sebagai sejarawan) yang tidak kasat mata.

Seperti caption tulisan di Tempo : ADA PAHLAWAN DI JALUR TOL

Selesai membaca dan merenung segera kuangkat telepon dan diseberang sana terdengar suara ” Ada apa Tok ?, kau masih disana, kapan pulang…”.

Putu sahabat kentalku adalah seorang wartawan dan jurnaslis yang kini beralih profesi menjadi sastrawan penulis naskah naskah film.

Ayahnya mengalami gejolak politik dan perjuangan fisik sejak 1945 sampai 1949, hanya nasib baik saja yang menyebabkan dia tidak dibantai NICA saat banyak pejuang BALI dihabisi NICA di Tabanan, anehnya dia tidak pernah bercerita tentang orang tuanya, aku justru tahu dari orang lain.

Aku: ” Tu, kau baca media Indonesia ?”

Putu: ” ya, bacakan saja ! aku tak sempat membaca.”

Kadang jengkel juga aku dengan sikapnya yang ingin praktis, tapi itulah Putu seorang kawan yang selalu menganjurkan anjurkan aku untuk berhenti membaca dan mendorong-dorongku untuk menulis menulis dan menulis, kadang kurasakan semacam paksaan yang mengganggu juga walaupun tetap kunikmati.

Sering kukatakan padanya bahwa antara dia dan aku berbeda laksana bumi dan langit. Aku memang suka menulis tapi lebih suka membaca, sedangkan dia adalah maniak tulis yang tulisannya tersebar dibanyak media masa, dalam search google saja namanya ada ratusan ribu.

Aku: “Apakah kita biarkan saja orang yang dipercaya banyak jasa pada negara ini nyelonong menjadi pahlawan nasional?”

Putu: “Maksudmu?”

Aku: “Ya aku setuju dengan panitia BPPP yang memasukkannya kedalam nominasi pahlawan nasional jika penggalan busuk dari riwayat hidupnya ketika dia memerintahkan eksekusi pada para pejuang di Gianyar dan sikap anti pejuangnya itu direvisi”

Putu: “Tak mungkinlah”

Aku: “Mengapa tidak? mungkin saja, jika waktu kita undurkan ke 1945 lalu Anak Agung Gde Agung kita berikan surat yang mundur tahunnya bahwa dia akan diangkat sebagai pahlawan nasional kelak tahun 2007. (alas, tanpa surat imajiner inipun beliau sudah diangkat Pahlawan Nasional)

Putu: “Jadi simulasi waktu ?”

Terdengar tawa terkekeh diseberang sana.

Aku: “Bagaimana jika AA Gde Agung menolak, misalnya saat itu beliau bersama sahabat dekatnya tentu saja H.J. Van Mook masih sangat mengaggumi Ratu Juliana?”

Putu: “Tapi Indonesia merdeka ?”.

Aku: “Ya iyalah, tapi dibawah mahkota Belanda”.

Kembali Putu terkekeh.

Aku: “Tu masih ingatkah kau saat kita beramai ramai mendaftar jadi sukarelawan sesaat setelah mendengar pidato Bung Karno trikora 1962 di SMAN Singaraja untuk memaksa Belanda mengembalikan Irian Barat?”

“O ya, ya, saat itu bahkan banyak dari kita sampai dua kali mendaftar karena semangat patriotisme yang tinggi”, kata Putu bersemangat.

Aku: “Ya, tapi apakah para sejarawan yang kini menjadi anggota BPPD maupun BPPP pengusulan pahlawan nasional yang mengangkat AA Gde Agung bersama ketiga orang lainnya sudah lahir?”

Putu: “Sudah, tapi mungkin masih asyik bermain kuda kudaan dari batang pohon pisang”

Aku: “Tapi bisa juga seangkatan dengan kita, bahkan bukan hanya mendaftar terjun tapi sebagai bagian dari para pejuang bersama Benny Murdani atau Gde Awet Sara bergerilya di rimba Irian mencari tentara belanda.”

Putu: “Rasanya tak mungkinlah Tok!”

Aku: “Kenapa tidak? Seorang atau siapa saja yang menghayati perjuangan fisik melawan Belanda akan dengan mudah merasakan perbedaan antara pejuang dengan oportunis, antara pahlawan dengan pengkhianat, walaupun dipupuri dengan berbagaai jasa setebal kerak bumi.”

Putu: “Misalnya?”.

Aku: “Ya ambillah contoh pendapat Jenderal Purnawirawan Rais Abin ( yang malu malu mengkritik SBY ), itu tokoh militer yang pernah memimpin pasukan Garuda Dua ke Timur Tengah, bahkan dia menyaratkan bahwa pemimpin nasional atau negarawan harus memahami sejarah.”

Tidak seperti sekarang, penentuan pahlawan nasional seakan hanya merupakan bagian sekrup dari sebuah project pembangunan, note itupun bagian yang tidak begitu penting.

Jangan jangan Presiden tidak pernah membaca draft usulan itu lalu langsung ditandatangani saja setelah disodori oleh sekretarisnya (tentu ini nanti jika terbaca oleh orang orang terhormat itu akan dibantah habis-habisan dengan pelbagai data dan fakta sejarah, tak penting ada yang dilupakan atau sengaja dilupakan).

Putu: “Jadi Presiden, Sekertaris Negara itu tidak benar benar memahami sejarah?”.

“Hampir benar”, jawabku, “tapi karena Presiden dan Sekretaris Negara tak bisa disalahkan, tugasnya amat sibuk mengurusi hal-hal yang jauh lebih penting daripada sekedar pahlawan akhirnya beban tanggung jawab tentu ada pada kelompok BPPP itulah ” kataku.

Putu: “Jika ini berlanjut untuk pahlawan pahlawan yang akan datang selanjutnya?”

Aku: “Belum sejauh itu, tapi konsekuensi logis dari penentuan gelar pahlawan oleh Negara pada AA Gde Agung adalah akan muncul nama-nama jalan, bandara, atau patung serta bangunan bangunan lainnya.

Misalnya Jalan Anak Agung Gde Agung disamping jalan Ngurah Rai, patung Anak Agung Gde Agung berangkulan dengan patung Ngurah Rai, yang paling mengagumkan adalah penggantian nama Bandara Ngurah Rai dengan Bandara Anak Agung Gde Agung.”

Putu: “Kenapa ?”

Putu ingin penjelasan walaupun aku faham dia sudah tahu jalan fikiranku.

Aku: “Karena misalnya setelah dipilah pilah dan dibandingkan oleh oleh panitia sejarah yang piawai dan pintar pintar itu ( saya duga kebanyakan mereka adalah PhD atau jenderal sejarawan karier yang belum pernah menyaksikan perang ) maka Ngurah Rai berusia sangat singkat lahir 1917 gugur 1946, jadi usia cuma 29 tahun.

Jasapun cuma berperang dalam palagan Margarana, itu saja.

Sedangkan Anak Agung Gde Agung, dengan menghapus penghianatannya yang tak seberapa dan bisa dimaafkan (tak ada manusia yg sempurna bukan ?, cih !) itu wafat dalam usia hampir 90 tahun, sangat berjasa dalam berbagai peristiwa diplomasi dengan pihak Belanda.

Sehingga tanpa keikut sertaan Anak Agung Gde Agung di KMB, Republik ini tak akan segera terwujud.

Ngurah Rai hanya pahlawan lokal yang memimpin seratus extremist yang lalu mati konyol oleh kepahlawanan serdadu serdadu NICA ( yang kebanyakan terdiri dari bangsa awak ) dan beberapa pengkhianat pejuang yang membocorkan posisi Ngurah Rai pada saat terakhir.

Konon tanpa Ngurah Rai, Indonesia tetap merdeka, tapi tidak tanpa Anak Agung Gde Agung, he..eh !”.

Putu: “Itu pendapatmu?”

Aku: “Aku belum selesai berbicara…

Lalu barangkali dibatok kepala para cendekiawan ini sedang terpikirkan untuk mengangkat Raymond Westerling bersandingan dengan Ignatius Slamet Riyadi sebagai pahlawan pejuang.

Sekalian Ross van Tonningen penakluk Badung Tabanan dan Klungkung disamping Anak Agung Ngurah Denpasar yang pralaya di puputan Badung.

Gusti Made Jungutan patih Karangasem ( penghianat yang membelot kearah pasukan Belanda saat Perang Jagaraga 1848-1849 ) berdampingan bersama I Gusti Ketut Jelantik ( pahlawan Nasional ) patih Buleleng.

Ida Made Rai ( pemimpin perang banjar 1868, sedang kami usulkan sbg pahlawan nasional bersama Men Blegug dari Buleleng ) berdampingan bersama Ketut Liarta ( orang setia dan kepercayaan belanda dan patih Buleleng saat mendampingi Raja Anak Agung Djelantik Padang di Buleleng.

Gusti Gde Rai patih Lombok ( komandan rekrut laskar Lombok yang menyerbu Karangasem atas perintah Jenderal Michiel setelah jatuhnya buleleng ) berdampingan bersama Anak Agung Istri Balemas dari Klungkung yang membunuh Jenderal Michiels di perang Kusamba.

Atau siapa tahu bahkan Sultan Hassanuddin pada suatu saat yang tidak lama lagi akan berdampingan dengan Aru Palaka yang segera diangkat sebagai pahlawan nasional karena jasa jasanya membantu Belanda mengamankan Perjanjian Bungaya sehingga Negara menjadi bebas dari pemberontakan partisan Bugis Makassar yang mengganggu pelayaran VOC di laut Nusantara”.

Putu: “Lalu alasan apa yang mendasarinya?”.

Aku: “Banyak, dan karena telah masuk pada telaah para cendekiawan panitia yang berkaliber internasional dan tak diragukan semangat patriotiknya dalam menelaah peristiwa-peristiwa sejarah nasional, tak perlu kita ragukan.”

Putu: “Misalnya?”

Aku: “Ya, bahkan Anhar Gonggong mantan anggota BPPP pernah mengatakan ” Belum tentu federalis itu penghianat ( apakah dia bermaksud mengatakan : belum tentu penghianat itu federalis )”

Putu: “Wah itu namanya keblingder Tok ! “

Aku: “Cendekiawan dan orang-orang apalagi yang amat memahami sejarah tak mungkinlah keblinger Tu, kita bahkan harus berterimakasih atas kerja keras mereka ..he..he”

Diseberang sana terdengar Putu terkekeh kekeh lagi.

Lalu terdengar suara klik ditelepon hubungan terputus, aku sadar ditempat kerja ini tak dibenarkan bicara lebih dari sepuluh menit.

Pondok Kopi,
Selasa 20 Nov 2007, jam 21.20 .

(Aku menundukan kepala sesaat mengenang I Gusti Ngurah Rai dan 99 pejuang lainnya yang gugur dalam palagan Margarana tepat hari ini 61 tahun yang lalu).

Soegianto Sastrodiwiryo.

29 Tanggapan to “Pejuang Atau Pengkhianat?”

  1. Wayan Suri Says:

    Meanwhile, a former independence fighter in Bali, Desak Raka Nadha, 81, said that she didnt agree with the governments decision to make Ide Anak Agung Gde Agung a national hero.

    When we were in the struggle, we were the ones who had to face torture. Meanwhile, Anak Agung was a federalist who worked together with the Dutch government. That alone disqualifies him from the status of national hero, she told The Jakarta Post in a phone interview.
    More http://blog.baliwww.com/bali-news-events/1059/

  2. antonemus Says:

    great story. ini memang ironi: pengkhianat pun bisa jadi pahlawan. ah, betapa ironisnya negeri ini..

  3. Ratu Adil Says:

    BLOG KAMU MEMBOSANKAN!!!! TAU GAK!!!!


  4. @Ratu Adil:

    Saya pikir anda bukan bosan, tapi benci.
    Kalau bosan beneran maka gak bakal sempet posting komentar segala.

    Kalau sudah benci maka bisa ditebak anda dari kalangan mana… yang jelas bukan dari kalangan keluarga yang dulu dibantai tokoh yang dibicarakan dalam tulisan diatas..


  5. [...] Di Pinggir Jurang Jump to Comments Tulisan ini seyogyanya adalah tanggapan untuk komentar sdr Ratu Adil yang bosan dengan Blog saya. Namun dalam menulis tanggapan tersebut terinspirasi untuk sekedar menyinggung beberapa hal [...]


  6. Dear Ratu Adil,

    saya bersyukur dan berterimakasih pada Anda karena walaupun akhirnya bosan tapi Anda telah sempat mengunjungi blog saya .

    Soal blog , pasti panyak blog blog lain yang jauh lebih menarik dari pada blog ini dan silahkan melanglang buana kesana kemari ( barangkali situs pornografi sangat tidak membosankan ya..ha..ha…..)

    Membosankan seperti orang sering makan di restoran tertentu yang menunya itu itu saja maka bisa juga bosan, itu wajar.

    Maaf barangkali saya tidak bisa menyajikan menu tulisan yang sesuai dg selera Anda .

    Dan andapun tidak salah karena bosan ( dus apakah bosan karena sering sering masuk ke blog ini dan jujur memang isinya baru itu saja , belum berkembang ke masalah2 lainnya . )

    Silahkan Anda membaca tulisan saya yang baru dan sekali lagi terimakasih karena tanggapan andalah
    saya jadi menulis lagi
    ( tentu jika Anda belum bosan ).


  7. Pak Soegianto terima kasih tulisannya tentang AA Gede Agung ini. Seingatnya AA Gede Agung ini temen dekatnya Sultan Hamid. Siapa Sultan Hamid, ya pasti tahu lah.. :)
    Saya juga heran kenapa AA Gede Agung, bisa menjadi pahlawan nasional. Benar2 heran saya.. Bahkan tokoh2 sekaliber HB Buwono IX, Bung Tomo yang jelas2 perjuangannya kok belum menjadi pahlawan nasional.
    Btw, Pak Soegianto selama di Bali tinggal di Singaraja ya? Rumah orang tua saya juga di Singaraja, di Buleleng – Banjar Tegal. Kakek saya dulu ikut berjuang, barangkali Pak Soegianto mengenal nama beliau (Ketut Nara).
    Tentang Pak Item, gubernur bali pertama, konon kabarnya beliau sekarang masih hidup. Entah berita ini benar apa tidak..

  8. PB Says:

    Maaf kalau ada perbedaan pendapat.
    Di satu pihak, saya ada kecenderungan untuk di pihak anda dalam menilai ttg A. A. Gde Agung. Terutama ttg penganugerahan Pahlawan Nasional yg terkesan ‘absurd’ dan tergesa-gesa. Saya juga heran ada iklan ucapan selamat dari Jurusan Sejarah UI di harian Kompas 20/11/2007 kepada beliau (Tanggal bertepatan dgn Puputan Margarana). Kenapa tidak ada selamat kepada pahlawan2x lainnya? Heran khan?

    Namun, saya belum melihat logika kenapa di berbagai tulisan anda (+putra) bahwa dr Djelantik selalu terlihat sbg “a good guy” dibandingkan kawan akrabnya A. A. Gde Agung ini.

    Tentunya benar atau salahnya itu, Tuhan di atas yg menilai. Kita hanya mencoba interpretasi berbagai informasi yg kita miliki.

    Mungkin atau tidak, dr Djelantik membocorkan rahasia I Gusti Ngurah Rai? Beliau berteman baik dgn keduanya. Sempat dibahas oleh putra anda, dan memang benar hanya Tuhan yg tahu.

    Baik A A Gde Agung dan Dr Djelantik menulis sendiri versi sejarah mereka, and to be honest they are good writers.

    Karena takdir (keduanya putra raja yg boneka penjajah Belanda), mereka memulai karirnya sebagai mitra penjajah walau dgn intensitas yg berbeda. Gde Agung dari umur 2o-an sudah menjadi raja, sehingga terlibat konflik langsung dgn pemuda pejuang. Sedangkan dr Djelantik bukan putra mahkota, kuliah di Belanda, dan saat kembali pun diarahkan oleh Gde Agung untuk menghindari Bali karena sudah jadi target pemuda pejuang Bali.
    (Walau beliau sih nulisnya, diam2x pro-pejuang) Dalamnya laut bisa diukur, isinya hati??? It’s up to our interpretation.

    Setelah angin berbalik ke RI, keduanya juga mengabdi untuk negara RI, walau dgn intensitas yg berbeda. Gde Agung berkiprah pada skala nasional&internasional, dan dr Djelantik pada skala lokal. Karena kiprahnya di skala nasional, Gde Agung kurang mengakar di Bali, sedangkan dr Djelantik memiliki beberapa kenangan di daerah.

    Dari segi pengabdian kepada budaya ‘Bali’, saya rasa Gde Agung lebih besar peranannya dibandingkan dr Djelantik. Untuk budaya kontemporer, okelah dr Djelantik lebih berperan.
    Gde Agung di masa tuanya mengabdikan dirinya untuk Puri Agung warisan orang tuanya dan mempertahankan budaya2xnya. Putra2xnya juga masih tetap mempertahankan ke-Bali-an mereka, walau persaingan antara Gianyar Timur dan Barat akan selalu ada. Sedangkan di mana sekarang putra2xi dr Djelantik? Pernah nggak terpikir kenapa beliau meng-kremasi istrinya tercinta? Alasan beliau tertuang di bukunya. Kalau menurut saya: karena beliau dan putra-nya tidak mebanjar di Bali, sehingga sulit melakukan pengabenan. Walau keluarga Puri, tiap orang harus ikut me-banjar dalam komunitas adat Bali, bahkan tidak jarang seorang anggota Puri me-banjar di beberapa banjar.

    Pola di-antara keduanya sebenarnya mirip, tapi dgn intensitas2x yg berbeda. Namun karena dr Djelantik lebih dekat ke media lokal (plus para bule2x di Bali), makanya beliau selalu terlihat as a good guy, sedangkan Gde Agung memiliki beberapa musuh abadi di Bali sehingga beliau selalu terlihat as a bad guy di Bali. Untuk skala nasional, Gde Agung terlihat as a good guy karena musuh2xnya hanya berskala lokal.

    Benar atau salahnya mungkin hanya Tuhan di atas yg tahu. Namun saya setuju untuk dikaji ulang ttg kepahlawanan Gde Agung, dan prosesnya terbuka dan tidak diam2x spt ini. Walau demikian, tetap acknowledge beberapa aspek positif dari beliau, OK.

    Cheers
    PB


  9. Dear PB ( Pejuang Bali ? ) ,
    terimakasih karena Anda saya anggap termasuk salah seorang yang cukup aware dengan masalah nilai , yang kini nampaknya beringsut mengkerut menjadi setitik noktah yang terlindung oleh pragmatisme globalisasi , dimana kosakata pahlawan lebih banyak merupakan asesori belaka dalam ritus2 dan upacara.

    Saya sedih karena orang orang seperti Anda , kini nampaknya telah menjadi semakin langka , apalagi memang dengan tepat sekali mencantumkan nama PB ( Pejuang Bali ) , menunjukkan ” what kind of man are You ” , dan tampaknya secara bathiniah cukup memiliki kesadaran untuk menilai siapa sebenarnya yang berhak menyandang gelar pahlawan dan siapa tidak.

    Saya juga minta maaf karena tampaknya saudara Pejuang Bali merasa sangat terganggu dengan pendapat saya tentang Dr Djelantik pada bagian tertentu.

    Ini katanya memang harus segera dilenyapkan, barangkali itulah sebabnya ia diam diam memberikan informasi kepada Dr Djelantik (yg dengan cerdas menyembunyikan simpatinya pada Republik dari AA Gde Agung) sekitar tahun 1948 agar jangan dulu masuk ke Bali.

    “Para pemuda makin liar dan brutal” katanya ( tulisan dari biografi Dr AAM Djelantik, Memoirs of a Balinese Princess), siapapun yang masuk dari Jawa akan dianggap extremis oleh NICA.

    ( akan lebih gentleman dan indah rasanya jika Anda sebutkan nama Anda sebenarnya , apalagi istilah Pejuang Bali tidak bisa lain daripada mewarisi semangat Gusti Ngurah Rai )

    Seperti yang Anda katakan ini hanya perbedaan pendapat, tentu saja itu berarti kita tidak harus sependapat.

    Tapi untuk Anda ketahui juga bahwa dalam tulisan saya Pahlawan atau Penghianat saya tidak dalam posisi untuk mengangkat atau menonjolkan Dr Djelantik demi keperluan tertentu spt misalnya kompetisi penamaan RSUP Sanglah.

    Saya sebatas punya keyakinan bahwa apa yang ditulis Dr Djelantik cukup memiliki nilai kejujuran atau Dr Djelantik berusaha untuk mengungkapkan masa lalunya secara jujur.

    Bahwa Anda tidak percaya dg pengakuan atau bagian bagian tertentu , dan menganggap ada kemungkinan Dr Djelantik membocorkan rahasia Ngurah Rai kepada penguasa Belanda dsb itu adalah hak prerogatif Anda sebagai individu yang berhak menyatakan fikiran dan pendapat secara bebas .

    Sejauh ini saya percaya kepada tulisan beliau atau kredibilitas kejujurannya dalam menulis ” Memoirs of a Balinese Princess ”
    sedangkan Anda meragukan atau tidak mempercayainya bagian bagian tertentu itu sah saja dan tidak akan mengubah apapun tentang keberatan saya ( atau barangkali Anda juga yang meminjam nama Pejuang Bali ) pada diangkatnya
    Anaka Agung Gde Agung sebagai Pahlawan Nasional.

    Saya tiba tiba merasa risih dan agak terganggu membahas keberatan dalam quotation Anda tentang Dr Djelantik, karena tujuan pokok saya adalah untuk sekedar memberikan explanasi dan sudut pandang saya tentang peristiwa pengangkatan seorang tokoh yang ( menurut pendapat saya )bertentangan rasa patut orang Bali, rasa patut para pejuang di Bali, rasa patut semua tokoh perjuangan yang pernah menghadapi Nica Belanda dan politik pecah belah Belanda antara 1945 sampai 1949 , ( dengan perkecualian team BPPP atau BPPD yang telah kehilangan visi patriotisme , alas tak mampu membedakan antara pejuang dan penghianat dan tanpa malu malu menggunakan wewenangnya untuk mengangkat atau mengusulkan orang yang sangat tidak tepat untuk menyandang gelar Pahlawan Nasional )rasa patut semacam arek arek Suroboyo yang menanti nantikan dengan tak kunjung tiba kapan misalnya Bung Tomo akan diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

    Jika saya kemukakan alasan alasan mengapa saya tampak oleh Anda menganggap Dr Djelantik sbg Good Guy, maka itu semata mata karena Anda barangkali mengharapkan saya menganggapnya beliau tak lebih sebagai Bad Guy.

    Sebenarnya samasekali tak ada relevansi dengan Good Guy atau Bad Guy .

    Tentu ini akan menjadi naif jika saya harus mengikuti jalan fikiran Anda, walaupun bisa saja Anda benar – tapi ini kan masalah persepsi dan keyakinan seseorang.

    Untuk Anda ketahui juga bahwa dimata saya tokoh tokoh seperti Prof IGNG Ngurah maupun Dr Djelantik itu memiliki personality yang menimbulkan rasa hormat dan kekaguman diriku pada mereka , terserah pada orang lain – karena pengalamannya atau keyakinannya misalnya kurang respek pada salah seorang atau keduanya.
    Prof Ngurah misalnya adalah idola saya, karena seyogyanya seorang gurubesar itu adalah prototipe seperti beliau.

    Dr Djelantik selain dokter juga seorang budayawan yang sangat mencintai kesenian dan budaya daerahnya.

    Bahkan Anak Agung Gde Agung tetap saya hormati sebagai cendekiawan , sejarawan dan diplomat yang piawai.

    Namun maaf begitu sampai diwilayah gelap pembantaian gerilyawan republik dari Gianyar maka dahiku berkerut ( apalagi mereka yang tergolong patriot tanah air ) dan memalukan sekali untuk membayangkan sosok figur beliau berdampingan dengan tokoh sekaliber I Gusti Ngurah Rai , komandan Resimen Sunda Kecil yang patriotik itu.

    Dalam surat ini saya ajak saudara untuk melupakan perbedaan pendapat yang kurang berarti ini, dan menggalang opini dan pendapat umum di Bali melalui rakyat Bali cq para anggota Dewan yang terhormat, baik tingkat satu maupun tingkat dua diseluruh kabupaten di Bali, Legiun Veteran cabang dan ranting, maupun markas Legiun Veteran Pusat atau Daerah Bali serta tokoh tokoh dan anggota keluarganya melakukan manouvre menulis surat atau pernyataan Penolakan pada Pengangkatan Ida Anak Agung Gde Agung sebagai Pahlawan Nasional.

    Kemudian meneliti dan menyelidiki Kepanitiaan baik di BPPP maupun BPPD , siapa saja yang memegang andil bagi pengangkatan yang kontroversial ini.Dan mengapa mereka lakukan itu.

    Atas pertimbangan apa , apakah prosedur yang lazim telah dilaksanakan ( karena Sdr Asvi Warman Adam seorang sejarawan yang cukup dikenal di tanah air sempat mempertanyakan dan meragukan tranparansi Pengangkatan Anak Agung Gde Agung ).

    Jangan jangan ada skenario yang secara sadar atau tidak di terapkan untuk membuat perpecahan dikalangan masyarakat Bali dan Indonesia , menjungkir balikkan nilai nilai patriotisme , seakan siapa saja boleh berkhianat tapi tak usah khawatir karena suatu saat bisa saja dimaafkan ( dengan berlindung secara licik dibelakang adagium agama: memaafkan jauh lebih baik daripada membalas ).

    Silahkan dikaji ulang kepahlawanan Anak Agung Gde Agung, namun bagi saya pribadi cuma ada satu keyakinan, cabut gelar kepahlawanan Ide Anak Agung Gde Agung karena jiwa para patriot dan pencinta kemerdekaan yang telah gugur maupun yang masih hidup telah lebih dari cukup untuk menilai dimana posisi Gde Agung dalam era perjuangan pisik antara 1945 sampai 1949 di Bali.
    Ini demi memenuhi rasa keadilan dan penghargaan kepada Para Pahlawan Nasional baik yang telah diangkat, yang akan diangkat maupun yang terlewatkan, yang telah gugur maupun yang masih hidup.

    Merdeka,

    Soegianto Sastrodiwiryo.


  10. @PB:

    Namun, saya belum melihat logika kenapa di berbagai tulisan anda (+putra) bahwa dr Djelantik selalu terlihat sbg “a good guy” dibandingkan kawan akrabnya A. A. Gde Agung ini.

    Setelah sekian banyak diskusi yang tidak seimbang antara kelompok anda dan saya di Blog saya.

    Saya melihat Dr Djelantik dengan semua fakta yang ada dan melihat AA Gde Agung dengan semua fakta yang ada juga.

    Sedangkan anda hanya melihat dari sudut pandang pribadi sehingga muncul presepsi good guy dan bad guy.

    Sedangkan dr Djelantik bukan putra mahkota, kuliah di Belanda, dan saat kembali pun diarahkan oleh Gde Agung untuk menghindari Bali karena sudah jadi target pemuda pejuang Bali.

    Saya sudah pernah menulis panjang lebar untuk menjelaskan tentang hal kepulangan Dr Djelantik.

    Dalam tulisan itupun anda tidak memiliki fakta atau argumentasi berkenaan dengan kepulangan Dr Djelantik selain pertanyaan tentang surat IGN Rai yang sudah saya jawab.

    Tapi disini anda seolah olah tidak pernah terlibat diskusi tersebut dan kembali pada pendirian semula tanpa perlu mengemukakan fakta dan argumentasi.

    Dari segi pengabdian kepada budaya ‘Bali’, saya rasa Gde Agung lebih besar peranannya dibandingkan dr Djelantik….

    Untuk opini silahkan saja. Baik buruknya sebuah opini tergantung dari fakta yang dipakai sebagai landasan.

    Gde Agung di masa tuanya mengabdikan dirinya untuk Puri Agung warisan orang tuanya dan mempertahankan budaya2xnya. Putra2xnya juga masih tetap mempertahankan ke-Bali-an mereka… …Sedangkan di mana sekarang putra2xi dr Djelantik?

    Opini yang gegabah, sebab fakta bahwa salah satu putri beliau: Bulantrisna Djelantik adalah seorang penari Legong senior yang sering membawa nama Indonesia keluar negri saja anda tidak tahu maka opini anda kurang berbobot.

    Pernah nggak terpikir kenapa beliau meng-kremasi istrinya tercinta?… Kalau menurut saya: karena beliau dan putra-nya tidak mebanjar di Bali, sehingga sulit melakukan pengabenan. Walau keluarga Puri, tiap orang harus ikut me-banjar dalam komunitas adat Bali, bahkan tidak jarang seorang anggota Puri me-banjar di beberapa banjar.

    Saya sudah pernah bahas itu atas pertanyaan Kurnia Setiawan. Tak perlu saya kemukakan fakta bahwa kremasi dilakukan atas permintaan Ibu Astri sendiri dalam wasiatnya sebab anda tidak perduli fakta. Saya tidak sedang membela keluarga Djelantik tapi saya heran betul atas kebencian anda dan apa sebenarnya yang ingin anda kemukakan.

    Sangat terasa nuansa propaganda dengan menyerang pribadi Dr Djelantik yang keluar dari konteks artikel tulisan diatas.

    Namun karena dr Djelantik lebih dekat ke media lokal (plus para bule2x di Bali), makanya beliau selalu terlihat as a good guy, sedangkan Gde Agung memiliki beberapa musuh abadi di Bali sehingga beliau selalu terlihat as a bad guy di Bali. Untuk skala nasional, Gde Agung terlihat as a good guy karena musuh2xnya hanya berskala lokal.

    Sebuah hipotesa yang sederhana dan kontradiktif.

    AA Gde Agung diangkat pahlawan karena Pusat tidak memiliki fakta tentang lembaran suram masa lalunya sehingga membuat orang yang punya fakta lain berkeberatan.

    Sedangkan Dr Djelantik diangkat sebagai apa? oleh siapa? sehingga anda berkeberatan atas apa?

    Bagi orang orang yang berkeberatan atas pengangkatan AA Gde Agung sebagai pahlawan silahkan protes dengan mengemukakan fakta dan argumentasi, seperti yang saya lakukan dengan menulis di Blog saya.

    Anda sangat berkeberatan dengan Dr Djelantik atas penganugrahan apa? Apakah anda memiliki fakta tentang Dr Djelantik seperti halnya saya memiliki fakta atas AA Gde Agung?

    Pak Windia dan Pak Pinda yang berkeberatan atas pengangkatan AA Gde Agung lalu bersuara dengan fakta.

    Tapi saya yakin anda tak akan berani melakukannya, selain karena anda tak punya fakta dan tak mampu berargumentasi tapi juga karena anda seorang pengecut yang hanya timbul keberaniannya ketika menggunakan nama samaran.

    Parahnya nama samaran yang anda pilih adalah “Pejuang Bali”. Sebuah nama julukan yang bermakna konotasi para pejuang yang gagah berani.

    Setiap serangan yang anda lakukan atas Dr Djelantik jadi basi dan tak berbobot.

    Dulu anda memperbanding bandingkan Dr Djelantik dengan Prof Ngurah sekarang anda memperbanding bandingkan Dr Djelantik dengan AA Gde Agung.

    Semua perbandingan anda bermuara pada pembunuhan karakter Dr Djelantik tanpa disertai konsep kontekstual perbandingan dan relevansi dengan artikel yang dibahas.

    Sungguh menyedihkan jiwa yang terjebak dalam kebencian yang begitu dalam tanpa bisa memuntahkannya dengan tuntas.

    Mohon maaf bagi para pembaca yang tidak ngerti kenapa saya begitu sinis pada PB ini karena kami sudah lama terlibat diskusi di Blog saya. Silahkan kunjungi link link yang saya sertakan untuk mengikuti diskusi kami sebelumnya.

  11. simple man Says:

    wib


  12. Dear Eka Suwartadi,

    Pak Soegianto terima kasih tulisannya tentang AA Gede Agung ini. Seingatnya AA Gede Agung ini temen dekatnya Sultan Hamid. Siapa Sultan Hamid, ya pasti tahu lah.. :)

    Saya rasa memang benar AA Gede Agung adalah sahabat Sultan Hamid Algadri dari Pontianak, keduanya adalah loyalis Belanda , bahkan Sultan Hamid ini pernah menjadi sekretaris pribadi Ratu Juliana dari Negeri Belanda pada era kolonial.

    Saya juga heran kenapa AA Gede Agung, bisa menjadi pahlawan nasional. Benar2 heran saya..

    Bukan Anda saja yang heran, tokoh sejarawan sekelas Asvi Warman Adam yang cukup kritis serta para pejuang kemerdekaan yang masih hidupun turut geleng geleng kepala.

    Inilah Ketoprak Kepahlawanan era awal abad 21 , dengan sutradara para Sejarawan linglung ..he..he..

    Bahkan tokoh2 sekaliber HB Buwono IX, Bung Tomo yang jelas2 perjuangannya kok belum menjadi pahlawan nasional.

    Barangkali ada mekanisme Jalan Tol seperti yang disinyalir mingguan Tempo 19 November 2007 ,
    sehingga nampaknya para calo Pahlawan Nasional yang ingin tampak berjasa lalu berlomba lomba memasukkan nama nama calon semaunya ke trek jalan tol ..he..he….mudah mudahan dugaan saya salah .

    Namun memang ada yang sangat pas misalnya Ignatius Slamet Riyadi adalah salah seorang tokoh yang keberanian dan kepatriotannya mirip I Gusti Ngurah Rai , acc banget , semoga menyusul Sri Sultan dan Bung Tomo lalu jangan dilupakan tokoh Perang Banjar Ida Made Rai 1868 yang menghadapi tiga kali expedisi Belanda di Bali Utara , beliau di exekusi secara diam diam di Priangan menyalahi janji dalam perundingan.

    ( baca buku saya yang terbit Feb 2007 ” Perang Banjar ( 1868 ) , Sebuah Pemberontakan para Brahmana terhadap kekuasaan kolonial Belanda di Bali Utara ” )

    Btw, Pak Soegianto selama di Bali tinggal di Singaraja ya? Rumah orang tua saya juga di Singaraja, di Buleleng – Banjar Tegal. Kakek saya dulu ikut berjuang, barangkali Pak Soegianto mengenal nama beliau (Ketut Nara).

    Ya saya memang asli orang Buleleng , tinggal di Kaliuntu. Orang tua saya adalah kenalan baik Pak Nara pejuang yang sama sama pernah digelandang Belanda ke Penjara Kolonial Pekambingan bersama Pak Nyoman Gede dari Jagaraga , Pak Ginatra dari Br Jawa , Pak Darmayuda dll.

    Kalau tidak salah saat saya kuliah di Denpasar tahun 60 an beliau ( Pak Nara ) pernah kutemui kebetulan bersama naik suburbannya Pak Maun dari Banjar Tegal ke DPS. Apakah beliau masih sehat, ayah saya sudah meninggal tahun 1990 .

    Tentang Pak Item, gubernur bali pertama, konon kabarnya beliau sekarang masih hidup. Entah berita ini benar apa tidak..

    Gubernur Bali pertama adalah Mr Pudja dari Sukasada Singaraja , bukan Pak Item.
    Pak Item ( Pak Widjana )adalah ketua Legiun Veteran , beliau sudah wafat.

    Salam,

    Soegianto S.


  13. @simple man,

    yah? panggil saya?

  14. PB Says:

    “Setelah sekian banyak diskusi yang tidak seimbang antara kelompok anda dan saya di Blog saya.”

    Siapa kelompok saya??? Kok bisa langsung nuduh begitu? Khan boleh donk tiap individu punya opini sendiri. Trus, boleh juga donk saya ‘setuju’ atau ‘tidak setuju’ dgn suatu kelompok. Sebenarnya saya lebih mengharapkan balasan dari Pak Soegiento yg bahasanya menyejukkan, dan tidak emosional spt anda.

    “Saya melihat Dr Djelantik dengan semua fakta yang ada dan melihat AA Gde Agung dengan semua fakta yang ada juga. Sedangkan anda hanya melihat dari sudut pandang pribadi sehingga muncul presepsi good guy dan bad guy.”

    Tiap fakta khan bisa dilihat dari berbagai sudut. Tiap fakta juga dapat dibaca dan diartikan berbeda. Anda sendiri sering eksplorasi data2x yg anda tampilkan. Saya katakan bahwa ada pattern yg mirip antara A. A. Gde Agung dan A. A. Md Djelantik. Yg paling penting: Both of them are good writers. Kebetulan demikian interpretasi saya dalam membaca fakta2x tsb. Khan saya sudah minta maaf terlebih dahulu kl pendapat kita berbeda.

    “Opini yang gegabah, sebab fakta bahwa salah satu putri beliau: Bulantrisna Djelantik adalah seorang penari Legong senior yang sering membawa nama Indonesia keluar negri saja anda tidak tahu maka opini anda kurang berbobot.”

    Juga opini yg dapat diperdebatkan. Saya katakan budaya kontemporer karena beliau menari Legong sbg duta Bali. Tentu saja saya tahu beliau, apalagi bagi seorang Bali Timur. Tahukah anda suami pertama beliau dan kenapa beliau bercerai? Sekarang beliau telah menikah dgn suami keduanya dan tinggal di USA. Balik ke budaya Bali. Apalah beliau masih seorang Anak Agung Ayu junjungan para pengabih/abdi dalem Puri Karangasem?? Coba anda berkunjung ke Puri Karangasem, dan tanyakan ke pengabih di sekitarnya apakah mereka masih bersedia memanggil Ratu ke ybs. Sebagai orang Bali (walau telah puluhan tahun mengembara di luar Bali), saya percaya akan Karma Pala. Ada sesuatu yg belum tepat yg dilakukan beliau terhadap leluluhurnya sehingga ada badai dalam kehidupan pribadi beliau. Saya bersimpati dgn beliau karena memang mereka dididik liberal sejak lecil.
    Di sini ada perbedaan antara A. A. Gde Agung dan Dr Djelantik. A. A. Gde Agung masih mendidik putra2xnya untuk mempertahankan tradisi
    budaya Puri Agung Gianyar. Putra2xnya masih punya kendali akan pengabih (abdi dalem) Puri Gianyar dan menjalankan tradisi budaya/adat Puri Agung Gianyar. Bagaimana dgn putra2xi Dr Djelantik? Pulang kampung aja jarang
    Memang persepsi saya melihat arti budaya itu berbeda dgn anda. Makanya saya bedakan antara budaya Bali dan budaya kontemporer. Beliau, Dr Djelantik, berada di budaya kontemporer, dan nggak sepenuhnya budaya Bali. Budaya Bali itu memiliki unsur adat yg sudah menjadi tradisi kita ratusan tahun. Bahkan seorang keluarga Puri pun masih harus terikat dgn adat ini. Memang terkesan kolot, but that’s what we are. Anda bisa tanya ke warga Bali di rantau (termasuk saya juga), kami masih terikat dengan pura leluhur (merajan) kami dan berbagai ikatan dgn komunitas adat di sekitar rumah kami.

    “Sebuah hipotesa yang sederhana dan kontradiktif. AA Gde Agung diangkat pahlawan karena Pusat tidak memiliki fakta tentang
    lembaran suram masa lalunya sehingga membuat orang yang punya fakta lain berkeberatan.
    Sedangkan Dr Djelantik diangkat sebagai apa? oleh siapa? sehingga anda berkeberatan atas apa?, dst…”

    Kenapa saya dikatakan membanding2xkan ketiga tokoh ini??? Saya khan juga turut mendukung anda dalam menentang pengangkatan pahlawan nasional A. A. Gde Agung.
    Bahkan saya adalah orang kedua setelah anda yg menandatangani petisi online tsb. Kenapa anda begitu emosi ke saya? Apakah anda dendam dgn orang lain, kemudian saya menjadi sasaran??
    Sekali lagi saya katakan mereka memiliki pattern yg sama. Trus, kenapa A. A. Gde Agung selalu terlihat ‘as a bad guy’ di tulisan anda, dan Dr Djelantik selalu terlihat ‘ as a good guy’. Simple khan pertanyaannya.

    Untuk menjadi penulis, sebaiknyanya ada contrast sisi baik dan sisi buruk dari keduanya. Yg saya perhatikan, khusus untuk Dr Djelantik, tidak pernah anda bahas sisi buruknya, padahal baik Dr Djelantik dan A. A. Gde Agung memiliki karir awal yg mirip2x. To be honest: both of them were initially Dutch collaborators (walau dgn intensitas yg berbeda). Namun setelah negara RI stabil, keduanya memiliki jasa besar untuk negara RI ini.

    Saran saya: untuk menjadi penulis besar, anda harus lebih sabar dan dewasa dalam menulis. Anggap saja saya sebagai lawan latih tanding anda dalam menulis. Tirulah ayah anda bagaimana beliau me-respons tulisan Ratu Adil. Ini baru budayawan sejati. No wonder he is a medical doctor from Udayana University. He learnt both medicine and culture

    Karena kesibukan saya, saya tidak mengikuti semua komentar di tulisan anda, dan saya mohon maaf kalau ada duplikasi di beberapa komentar saya. But, I enjoy reading your blogs.

    Stay cool Pal.

    PB

  15. Ray Says:

    Sebuah tulisan yg sangat bagus disertai dengan dasar dasar yg jelas, lugas dan terpercaya.

    Maaf saya kurang tahu sejarah, karena bukan bidang saya dan peristiwa tersebut jauh sekali sebelum saya lahir.

    Mungkin ini benar, salah satu trik untuk memperpecah Bali, dimana dua kali bom tidak juga memecahkan bali :)


  16. @PB:

    Siapa kelompok saya??? Kok bisa langsung nuduh begitu?

    Anda benar benar merasa tidak risih dan tidak sungkan sama sekali menggunakan nama samaran untuk kepentingan pribadi.

    Kelompok anda adalah kelompok pengguna nama samaran yang tidak beretika.

    Khan boleh donk tiap individu punya opini sendiri. Trus, boleh juga donk saya ’setuju’ atau ‘tidak setuju’ dgn suatu kelompok.

    Boleh boleh saja asal fair dan konsekuen menyatakan ketidak setujuan dengan alasan dan bertanggung jawab dengan alasan itu.

    Juga opini yg dapat diperdebatkan.

    Yang namanya opini itu tak perlu dan tak bisa diperdebatkan. Yang bisa diperdebatkan adalah keabsahan sebuah fakta dan analisis tentang fakta itu.

    Saya katakan budaya kontemporer karena beliau menari Legong sbg duta Bali

    Dalam konteks tari Legong: apa yang anda maksud dengan “budaya kontemporer”? apakah maksudnya seni kontemporer?

    Jadi menurut anda Legong termasuk seni kontemporer???

    Apa yang anda ketahui tentang seni kontemporer?

    Untuk menjadi penulis, sebaiknyanya ada contrast sisi baik dan sisi buruk dari keduanya.

    Seandainya saya menemukan fakta pasti akan saya tulis seperti fakta penghianatan AAGA. Anda tidak memberi fakta apapun tapi minta saya nulis sesuatu yang tidak ada faktanya.

    Lagipula dalam kapasitas apa anda mau menggurui saya teknik menulis?

    Yg saya perhatikan, khusus untuk Dr Djelantik, tidak pernah anda bahas sisi buruknya, padahal baik Dr Djelantik dan A. A. Gde Agung memiliki karir awal yg mirip2x.

    Dalam konteks apa saya mesti mengungkap keburukan Dr Djelantik?

    Untuk AA Gde Agung kenapa saya ungkap adalah karena berkenaan dengan pengangkatan pahlawan nasional.

    Tiap tiap orang punya sisi buruk. Saya sama sekali tidak tertarik mengorek sisi buruk orang lain.

    Kenapa saya mesti mengangkat sisi buruk Dr Djelantik? tak perlulah saya mengangkat sisi buruk siapapun termasuk Dr Djelantik, Prof Ngurah, Bulantrisna, Saraswati atau siapapun yang tidak berkenaan dengan pengangkatan pahlawan nasional. Apa urgensinya?

    Kenapa saya dikatakan membanding2xkan ketiga tokoh ini???

    Ya jelas dong, anda bandingkan bahwa Prof Ngurah itu pejuang dan Dr Djelantik bukan pejuang. Anda bandingkan putra putri AA Gde Agung lebih memelihara budaya Bali dan putra putri Dr Djelantik tidak.

    Terlepas dari itu benar atau salah, maknanya adalah anda telah membuat perbandingan, tidak usah mungkir.

    Saya khan juga turut mendukung anda dalam menentang pengangkatan pahlawan nasional A. A. Gde Agung. Bahkan saya adalah orang kedua setelah anda yg menandatangani petisi online tsb

    Jadi anda mau meminta nilai tukar dari dukungan itu? pamrih itu namanya. Kalau mau dukung, ya dukung saja, gak perlu sebut sebut ini dan itu.

    Kenapa anda begitu emosi ke saya?

    Karena anda telah menantang intelektualitas saya dengan cara pengecut dan tidak bermartabat. Kalau berani tunjukan identitasmu, jangan bersembunyi dibalik nama samaran.

    Anda tidak pantas menyandang nama Pejuang Bali, lebih pantas pakai nama Pengecut Bali. Pas, karena inisialnya tidak berubah.

    Apakah anda dendam dgn orang lain, kemudian saya menjadi sasaran??

    Bercerminlah, maka anda akan melihat orang yang anda tuduhkan itu. Anda benci pada Dr Djelantik kemudian menjadikan siapapun yang menulis tentang Dr Djelantik diberbagai Blog sebagai sasaran.

    Saran saya: untuk menjadi penulis besar, anda harus lebih sabar dan dewasa dalam menulis. Tirulah ayah anda bagaimana beliau me-respons tulisan Ratu Adil.

    Saya adalah saya, saya bukan ayah saya atau orang lain siapapun itu. Saya punya sikap sendiri yang dalam banyak hal bertentangan dengan ayah saya. Tapi tetap hormat dan saling menghargai.

    Anggap saja saya sebagai lawan latih tanding anda dalam menulis.

    Kalau mau jadi lawan latih tanding saya dalam hal menulis maka menulislah dan bukan cuma berkomentar yang tendensius. Kalau tidak maka saya anggap anda orang keblinger.

    Tahukah anda suami pertama beliau dan kenapa beliau bercerai? Apalah beliau masih seorang Anak Agung Ayu junjungan para pengabih/abdi dalem Puri Karangasem??

    Saya tidak ingin tahu urusan pribadi orang lain.
    Kenapa saya harus tahu semua itu?

    Sebagai orang Bali (walau telah puluhan tahun mengembara di luar Bali), saya percaya akan Karma Pala. Ada sesuatu yg belum tepat yg dilakukan beliau terhadap leluluhurnya sehingga ada badai dalam kehidupan pribadi beliau.

    Wuihhh…., saya kagum pada keberanian anda menghakimi spiritualitas seorang Bulantrisna Djelantik. Sangat tidak etis dan kurang ajar.

    Sadarkah anda bahwa anda sedang melakukan propaganda yang keji?

    Saya gak mau ikut lagi diskusi ini, mengerikan. Ini sudah melebar ke wilayah yang lain. Bagaimana jika beliau tersinggung dan ingin menuntut klarifikasi dari statement anda?

    Apakah anda akan memberi ruang akan hal itu? atau anda akan bersembunyi dibalik identitas samaran? Ini menyangkut etika moral.

    Ini bukan Blog saya dan saya tak mau mengotori ruang diskusi yang seyogyanya menjadi wacana perihal pengangkatan pahlawan nasional AAGA.

    FYI: saya tahu siapa anda dan semua komentator yang pernah komen di Blog saya. Tapi saya tak mau buka kedok anda sebab bisa mempermalukan keluarga besar anda dan saya tak mau terlibat urusan internal fair keluarga orang lain.


  17. Pak Soegianto,

    Kakek saya sudah meninggal sekitar tahun 1961-62. Saya tidak ingat persis karena saya belum lahir.

    OK deh, saya coba publikasi tulisan ini dan tulisannya Wibi ke milis2 dan teman2 saya.

    Salam Perjuangan!


  18. [...] Mungkin kalian heran.. bagaimana orang biasa seperti diriku ini bisa mendapatkan Medali seperti itu. Ceritanya sederhana sekali, dan entah kebetulan atau tidak tapi aku sendiri juga heran. Beberapa hari kemarin aku berkunjung ke blog nya Pak Yusril I.M dan disana menemukan link yg menarik, membawaku ke blognya Budayawan Muda serta Blognya Soegianto Sastrodiwiryo. Kebetulan Blog mereka berdua lagi hangat hangatnya membahas masalah seputar Presiden SBY mengangkat 4 pahlawan baru yang akhirnya menjadi sebuah polemik nasional. Yaitu pengangkatan Mayjen TNI (pur) Prof Dr Moestopo, pejuang dari Jawa Timur; dan Brigjen TNI (Anumerta) Ignatius Slamet Rijadi, pejuang asal Jawa Tengah. Seorang pahlawan nasional baru lainnya adalah Dr Ide Anak Agung Gde Agung. Yang menjadi masalah disini adalah pengangkatan Dr Ide Anak Agung Gde Agung sebagai pahlawan, dimana sang budayawan muda menuliskan Bila Oportunis Diangkat Pahlawan sedang Soegianto Sastrodiwiryo menuliskan Pejuang atau Pengkhianat. [...]


  19. [...] sinyalemen penulis dalam artikel dalam Blog ini ” Pejuang atau Penghianat ” bahwa barangkali para sejarawan dan peneliti kita yang katanya berkelas dunia tak begitu [...]

  20. saraswati Says:

    dr Soegianto Sastrodiwiryo
    Setelah sekian lama tidak berkesempatan membaca tulisan anda, saya ucapkan salut untuk ke empat tulisan anda. Tulisan yang runtun, mengalir, karena anda memang seorang penulis. Ungkapkanlah keperdulian anda pada kebenaran dan juga ketidakbenaran. Sangat bagus ditindaklanjuti menjadi suatu buku karena tidak semua orang yang tahu kebenaran bergabung di topik2 anda. Kalau anda tulis dalam buku berbahasa Indonesia (selanjutnya boleh juga ditindaklanjuti dgn yang berbahasa asing), minimal para pelaku sejarah yang masih hidup akan menjadi nara sumber dan masyarakat pejuang serta masyarakat luas turut serta membacanya.
    saraswati

  21. sakradeva Says:

    saya telah membaca tulisan anda, menurut saya usulan diadakan suatu seminar tetntang Mr Ida anak Agung Gde Agung suatu hal yang perlu dilakukan, saya kira Pihak keluarga ( Puri- Puri keturunan Dinasti manggis akan bersedia hadir sebagi peserta ataupun pembicara ).
    hal ini penting dilakukan sebagai salah satu solusi untuk meredam sekaligus memberi pencerahan atas kontroversi pengangkatan beliau sebagai Pahlawan Nasional.
    disamping itu kita juga perlu merupakan kondisi psikologis bangsa kita, terutama anak2 mengenai persepsi mereka tentang pahlawan, harus diakui Pahlawan di benak sebagian besar Bangsa kita adalah mereka yang berjuang mengangkat senjata melawan penjajah/ membela negara, mereka kebanyakan awam ttg para pejuang2 dijalur Diplomasi.
    oh ya saya tertarik dengan latar belakang keluarga Sastrodiwiryo ( Wibisono & Soegianto ) pernah tinggal di Singaraja ya?
    maaf sebelumnya, apakah salah satu keluarga anda punya pengalaman yang tidak mengenakan dengan Mr Anak Agung Gde Agung sehingga anda menulis dengan gigih penolakan terhadapan pengangkatan beliau sebagai Pahlawan Nasional ??


  22. @sakradeva:

    Keluarga kami memang pernah tinggal di Singaraja. Untuk AA Gde Agung secara pribadi keluarga kami tidak pernah ada masalah, malah bapak pernah bertemu dan diskusi dengan beliau dan terkesan beliau seorang pribadi yang ramah.

    Malah bapak diundang ke Puri Gianyar untuk diskusi lebih lanjut tapi sayang tidak sempat. Apa yang kami lakukan justru untuk meluruskan dan menempatkan AA Gde Agung pada posisinya yang semestinya. Sebaik baiknya sebuah penghargaan adalah yang pas dan sepadan dengan jasanya.

    Kalau kurang maka akan menghina tapi kalau berlebih maka akan merusak tatanan sosial. Jadi sebaiknya yang pas. Begitu menurut saya.

    Mas Sakradeva terimakasih atas perhatiannya.

  23. IDEK PERMANA Says:

    eamang yang namanya pro n kontra pasti ada

  24. Ida Ketut Kusumawijaya Says:

    bapak Sugianto,
    Bisa tolong ga, saya kebetulan sekarang ada tugas diBandung, dari cerita tentang perang Banjar Leluhur saya Ida Made Rai , Ida Made Tamu dan Ida Made Sapan ditahan di Bandung (Parahiyangan), bisa bantu tempatnya sekarang dimana? Penjara mana saya dapatkan informasi berkenaan dg keberadaan beliau dulu di Bandung
    tengs before
    best regards
    kusumawijaya

  25. adi Says:

    nice blog. terimakasih atas fakta-fakta sejarahnya.
    ps : lain kali nulis tentang sultan hamid ii dong hehehe ….
    -penggemar sejarah-

  26. Mumu Says:

    Begitu nikmat membaca postingan ini (dan juga postingan-postingan lain dalam blog anda)..

    Teruslah berkarya!

  27. yokhe Says:

    aduh kk2 senior semua.. kayaknya udah pada ahli semua ya dalam hal sejarah BTW.. udah pada berkunjung belom ke puri buleleng dan sukasada?? klo belom untuk lebih tau status dr jelantik yang di perdebatkan sebagai pahlawan atau pengkhianat silahkan berkunjung kesana untuk bahan sharing dan perbandingan. oya alasan orang2 dari puri singaraja ( keturunan dr jelantik ) tidak pernah membanjar di karenakan mereka sudah turun temurun berpindah kepercayaan (bukan HINDU) dan gelar Gusti / Anak agung yang disandang adalah sepenuhnya pemberian belanda, secara garis besar memang keluarga dari puri singaraja adalah boneka belanda pada jaman dahulu kala. lantas apakah boneka belanda pantas di jadikan pahlawan???

  28. yokhe Says:

    bukan berati yang bukan hindu tidak boleh membanjar loh .. tapi banjaran disana memang sudah lebih mengetahui asal usul tentang puri singaraja.

  29. yokhe Says:

    oya untuk yang keturunan pengkhianat bangsa dan negara harap maklum dan jangan tersinggung.. salahkanlah pada leluhur anda yang berkhianat demi harta dan kekuasaan semata tanpa memikirkan nasib rakyat dan orang lain demi ambisi. Hidup pahlawan yang benar2 pahlawan … (^_^ )


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: